Pasca Kebakaran Sade, Pemkab Loteng Fokus Jaga Kesehatan dan Kebutuhan Warga
LOMBOKita — Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mulai memetakan kebutuhan warga terdampak kebakaran di Desa Wisata Sade, Kecamatan Pujut, untuk memastikan kebutuhan dasar dan kesehatan masyarakat tetap terjamin dalam beberapa hari ke depan.
Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Pathul Bahri, mengatakan tiga hingga empat hari pertama pascakebakaran menjadi masa krusial yang harus mendapat perhatian serius, terutama terkait kondisi kesehatan warga yang kini berada di lokasi pengungsian.
“Yang menjadi kebutuhan-kebutuhan keluarga kita, masyarakat kita, sampai kita bicarakan dengan trauma healing dan lain sebagainya. Nah, kebutuhan-kebutuhan itu sedang kita kumpulkan,” ujarnya usai memimpin rapat koordinasi bersama seluruh jajaran di Kantor Desa Rembutan, Minggu.
Menurutnya, pemerintah tengah menginventarisasi berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari makanan hingga kebutuhan sehari-hari untuk beberapa hari ke depan.
Ia menegaskan aspek kesehatan harus menjadi perhatian utama. Berdasarkan pengalaman penanganan bencana sebelumnya, sejumlah gangguan kesehatan seperti sakit perut dan muntaber berpotensi muncul setelah beberapa hari warga berada di tempat pengungsian.
“Tiga empat hari ini adalah waktu yang harus dijaga, kesehatannya terutama. Pengalaman kita dua tiga hari ke depan itu terjadi macam-macam penyakit, sakit perut, muntaber. Ini pengalaman-pengalaman kita terdahulu. Maka semua itu harus diantisipasi,” kata Bupati sambil jalan kaki menuju lokasi kebakaran.
Untuk memastikan kondisi warga, petugas kesehatan telah diturunkan dan diminta melakukan pemantauan langsung ke rumah-rumah penduduk serta lokasi warga terdampak.
“Tim kesehatan sudah turun. Bahkan kami suruh keliling ke rumah-rumah penduduk, tempat masyarakat kita yang ada saat ini,” ujarnya.
Terkait tempat pengungsian, Pathul menyebut tenda untuk warga terdampak telah tersedia. Namun, pemerintah juga mempertimbangkan kondisi hunian warga di sekitar lokasi agar penempatan pengungsi dapat dilakukan secara layak.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga, pemerintah mulai mengoperasikan dapur umum di lapangan desa. Fasilitas tersebut juga akan didukung dengan ketersediaan stok logistik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Dapur umumnya nanti ada di lapangan desa. Itu akan dimanfaatkan sebagai tempat stok logistik. Ini sudah mulai. Sekarang ini mau dropping beras, dropping macam-macam,” katanya.
Selain pemerintah daerah, pihak terkait juga disebut turut memberikan dukungan berupa penyediaan makanan bagi masyarakat terdampak selama beberapa hari ke depan.
Pathul juga menyoroti kondisi permukiman tradisional Sade yang memiliki karakter bangunan dan tata ruang cukup rapat. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman ketika kebakaran terjadi.
Menurutnya, akses kendaraan pemadam kebakaran menuju kawasan permukiman cukup sulit karena keberadaan rumah-rumah penduduk yang telah berdiri sejak lama.
“Untuk masuk pemadam kebakaran ke dalam kan susah sekali. Kenapa? Karena rumah penduduk yang dari zaman dulu itu,” jelasnya.
Atas kejadian tersebut, Pathul mengajak masyarakat melakukan evaluasi terhadap pola pembangunan ke depan, tanpa menghilangkan karakter budaya yang menjadi identitas Desa Wisata Sade.
Ia menilai aspek keselamatan dan mitigasi bencana harus ikut diperhitungkan ketika mempertahankan konsep bangunan tradisional.
“Kita harus semua terpikirkan dan harus diantisipasi. Ujian ini tentu menjadi referensi kita bahwa ikhtiar membangun sesuatu itu juga harus dipikirkan. Apakah hari ini jerami, ilalang, lalu kemudian besok pakai ilalang lagi. Ini penting untuk kita diskusi-diskusi lebih jauh,” pungkasnya.
