Menjaga Kebhinnekaan pada “Zaman Now”
“Betapa Presiden Ashraf Gani memberikan sebuah penghargaan yang luar biasa karena meskipun Indonesia terdiri atas17 ribu pulau, tadi saya sudah menyampaikan, ada 714 etnis dan 1.100 lebih bahasa lokal, tapi masih pada posisi persatuan dan kesatuannya sangat baik,” ujar Jokowi menjelaskan perbincangannya dengan Ashraf Gani pada April 2017.
Kendati masih terjadi proses pendewasaan berdemokrasi di masyarakat, Jokowi selalu mengingatkan agar tidak terjadi perpecahan hanya karena perbedaan pilihan dalam Pilkada maupun Pilpres.
Situasi di Ibu Kota sempat memanas mana kala pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017.
Hal itu juga memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia perlu terus belajar berdemokrasi secara fair dan berimbang dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.
Demonstrasi yang berlangsung menuntut diadilinya mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka penoda agama dinilai sejumlah kalangan sebagai aksi intoleran.
Memang terjadi provokasi yang menunjukkan ketidaksukaan kepada beberapa pemilih Ahok waktu itu. Namun, dapat diredam oleh masyarakat dan pemerintah.
Sebaiknya masyarakat perlu mengingat ketika aksi massa 112 pada Februari 2017 yang terdapat kisah menyejukkan tentang keharmonisan umat beragama ditengah demonstrasi.
Pada Sabtu itu (11/2), pasangan pengantin Asido dan Fellicia yang akan menikah di Gereja Katedral, Jakarta terpaksa berjalan kaki ke gereja yang bersampingan dengan Masjid Istiqlal, Jakarta.
Sejumlah peserta demonstrasi 112 berpeci putih maupun yang memakai sorban tidak segan membantu keluarga dan pasangan itu membuka jalan mereka menuju gereja, bahkan memayungi ditengah guyuran hujan.
Kejadian kecil itu mungkin hanya salah satu bukti bahwa masyarakat Indonesia ternyata toleran dan menghargai kemanusiaan dalam perbedaan.
Jokowi pun selalu mengingatkan, perbedaan pada saat pemilihan pimpinan hendaknya berlaku secara profesional. Tidak menjadi kebablasan dan mengorbankan masa depan bangsa.
Pemerintah berpesan agar situasi kerukunan masyarakat di daerah-daerah juga terus dijaga. Masyarakat diminta waspada dan tidak cepat terbakar emosi karena kabar gurauan atau �hoax� dan berita-berita palsu yang lazim mengadu domba.
“Jangan sampai karena perhelatan politik, antartetangga nantinya tidak rukun, apalagi antar umat menjadi tidak kelihatan persaudaraannya,” tegas Jokowi.
