Sebanyak puluhan kota dan kabupaten sudah dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya.
Sering, dalam kunjungannya itu, Presiden berpesan agar masyarakat Indonesia dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa kendati memiliki perbedaan pilihan politis maupun suku agama dan ras.
Indonesia, ujar Presiden, memiliki 714 suku dan sekitar 17.000 pulau terbentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga ke Pulau Rote yang harus dijaga keutuhannya.
Saat bercengkrama dengan masyarakat, walau dalam gurauan dan suasana santai, dalam kuisnya Jokowi selalu mengajukan pertanyaan yang serupa; siapa hapal Pancasila, siapa tahu nama-nama suku hingga nama-nama pulau di Indonesia.
Jangan dikira mudah, pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sederhana bahkan bagi anak tingkat sekolah dasar seperti pelafalan Pancasila, nama-nama pulau di Indonesia, ragam suku yang ada belum tentu dapat dijawab lancar oleh para peserta.
Kepala Negara yang merupakan mantan gubernur DKI Jakarta itu sepertinya bertujuan untuk selalu mengingatkan kepada warganya bahwa Indonesia itu bangsa yang besar dan harus dijaga.
Upaya itu memiliki nilai mendalam agar masyarakat memahami makna dasar negara dalam lima sila Pancasila dan kandungan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya, suku bangsa dan agama yang begitu banyak untuk terus bersatu.
Mantan wali kota Solo itu juga terus menyampaikannya kepada para pimpinan negara sahabat mengenai kekayaan budaya di Indonesia.
Sebagian terperangah dengan begitu banyaknya ragam suku budaya, kekayaan alam yang tersebar di belantara hutan hingga di palung lautan.
Sejak zaman kolonial, bangsa lain begitu tertarik akan kecantikan Zamrud Khatulistiwa yang berada di antara dua samudra; Samudra Pasifik dan Samudra Hindia serta berlokasi diantara dua benua yaitu Australia dan Asia.
Kekayaan alam dan stabilitas politik Indonesia dapat menjadi potensi membangun bangsa dari segi ekonomi, sosial hingga budaya.
“Betapa Presiden Ashraf Gani memberikan sebuah penghargaan yang luar biasa karena meskipun Indonesia terdiri atas17 ribu pulau, tadi saya sudah menyampaikan, ada 714 etnis dan 1.100 lebih bahasa lokal, tapi masih pada posisi persatuan dan kesatuannya sangat baik,” ujar Jokowi menjelaskan perbincangannya dengan Ashraf Gani pada April 2017.
Kendati masih terjadi proses pendewasaan berdemokrasi di masyarakat, Jokowi selalu mengingatkan agar tidak terjadi perpecahan hanya karena perbedaan pilihan dalam Pilkada maupun Pilpres.
Situasi di Ibu Kota sempat memanas mana kala pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017.
Hal itu juga memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia perlu terus belajar berdemokrasi secara fair dan berimbang dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.
Demonstrasi yang berlangsung menuntut diadilinya mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka penoda agama dinilai sejumlah kalangan sebagai aksi intoleran.
Memang terjadi provokasi yang menunjukkan ketidaksukaan kepada beberapa pemilih Ahok waktu itu. Namun, dapat diredam oleh masyarakat dan pemerintah.
Sebaiknya masyarakat perlu mengingat ketika aksi massa 112 pada Februari 2017 yang terdapat kisah menyejukkan tentang keharmonisan umat beragama ditengah demonstrasi.
Pada Sabtu itu (11/2), pasangan pengantin Asido dan Fellicia yang akan menikah di Gereja Katedral, Jakarta terpaksa berjalan kaki ke gereja yang bersampingan dengan Masjid Istiqlal, Jakarta.
Sejumlah peserta demonstrasi 112 berpeci putih maupun yang memakai sorban tidak segan membantu keluarga dan pasangan itu membuka jalan mereka menuju gereja, bahkan memayungi ditengah guyuran hujan.
Kejadian kecil itu mungkin hanya salah satu bukti bahwa masyarakat Indonesia ternyata toleran dan menghargai kemanusiaan dalam perbedaan.
Jokowi pun selalu mengingatkan, perbedaan pada saat pemilihan pimpinan hendaknya berlaku secara profesional. Tidak menjadi kebablasan dan mengorbankan masa depan bangsa.
Pemerintah berpesan agar situasi kerukunan masyarakat di daerah-daerah juga terus dijaga. Masyarakat diminta waspada dan tidak cepat terbakar emosi karena kabar gurauan atau �hoax� dan berita-berita palsu yang lazim mengadu domba.
“Jangan sampai karena perhelatan politik, antartetangga nantinya tidak rukun, apalagi antar umat menjadi tidak kelihatan persaudaraannya,” tegas Jokowi.
Pada tahun 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan mengadakan Pilkada serentak.
Kedewasaan berdemokrasi masyarakat Indonesia akan kembali diuji dalam kontes 5 tahunan tersebut.
Guna menghindari emosi dalam perbedaan pilihan, bahkan untuk memadamkan api dalam sekam, Presiden terus berupaya mengingatkan kesadaran berdemokrasi secara damai.
“Saya titip hati-hati semua. Jangan sampai perbedaan membuat kita mudah dipecah-belah. Apalagi memasuki tahun politik, di mana pemilihan kepala daerah akan dilakukan di seluruh pelosok Tanah Air,” ujar Presiden saat berkunjung ke Cimahi, Jawa Barat pada 11 September lalu.
Peran pemuda Selain upaya blusukan menemui masyarakat di daerah, pemerintah juga mengikutsertakan para pemuda untuk mencintai dan terus menjaga persatuan.
Hal itu terlihat saat perayaan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober presiden mengundang beragam pemuda-pemudi yang berprofesi mulai dari pemilik usaha restoran, sepatu, modifikasi motor, petani, guru, hingga komunitas-komunitas yang berprestasi mengharumkan nama bangsa dan juga artis atau seniman muda.
Saat acara tersebut Jokowi berdiskusi dengan beberapa pemuda dan membicarakan mengenai masalah yang terjadi di bidang pertanian hingga pendidikan.
Pemuda juga membacakan Komitmen Pemuda Indonesia yang disampaikan oleh Mike J bermakna peran pemuda menjaga persatuan dan kesatuan dalam keberagaman.
“Kami pemuda Indonesia di atas segala perbedaan, kami bersyukur dan bersatu untuk menjaga keragaman dan kekayaan Tanah Air Indonesia dengan semangat dan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, kami bersumpah menjaga dan mempertahankan persatuan Indonesia atas nama rasa cinta kepada sejarah dan masa depan Indonesia. Kami berjuang untuk menjunjung tinggi budaya dan Bahasa Indonesia untuk kemajuan dan kehormatan Indonesia, kami bekerja sekuat tenaga untuk berkarya memberikan yang terbaik bagi seluruh rakyat indonesia. Kami pemuda Indonesia, kita tidak sama, kita kerja sama,” demikian komitmen itu.
Memang Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yang besar pada 2030 dimana jumlah angkatan kerja dengan usia 15-64 mencapai 70 persen.
Kendati demikian, hal itu akan sia-sia jika saja seluruh bangsa Indonesia tidak dapat menjaga kerukunan dalam membangun bangsa.
Bung Karno pun telah “melihat” bagaimana kekuatan pemuda sejak zaman pergerakan revolusi kemerdekaan Indonesia.
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” demikian kutipan pidato Soekarno yang terkenal.
Kendati demikian, Proklamator kemerdekaan Indonesia itu juga telah “membaca” adanya ancaman perpecahan bangsa jika persatuan tidak dijaga pada “zaman now” ini.
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” pesan Soekarno kala itu.

