Harga Garam Naik Berkah Bagi Nelayan
Jika musim dan berangin seperti sekarang ini, ikan besar di pinggiran (laut) tidak ada. Boleh dikatakan air laut sedang dingin sehingga nelayan kesulitan menangkap ikan di pinggiran. Tidak pelak, kata dia, hampir sebagian besar nelayan beralih pekerjaan menjadi petani garam.
Ia mengatakan bahwa petani garam akan kembali beralih menjadi nelayan rajungan pada saat memasuki musim hujan.
“Ya, lumayan Mas, kini kami menikmati adanya kenaikan harga garam itu meski itu sifatnya sesaat karena kemungkinan harga garam akan stabil setelah pemerintah mengimpor garam,” katanya.
Petani garam hanya berharap pada pemerintah harga komoditas berasa asin ini tidak turun drastis seperti harga sebelumnya Rp500,00/kg.
“Jika turun, kami berharap pada pemerintah harga garam masih bisa memperhatikan kepentingan petani garam. Boleh, sih, turun tetapi jangan sampai merugikan petani garam,” katanya.
Petani garam Nur Samadikun (55) mengatakan bahwa pembuatan garam itu lebih mudah, yaitu pertama menampung air laut sekitar sepekan pada petak penampungan hingga terjadi perubahan kondisi air.
Air tampungan dialirkan ke petak lain untuk kristalisasi. Satu petak lahan garam bisa dipanen berulang kali. Setiap satu pekan, petani garam dapat memanen garam hingga 10 petak pada lahan sekitar 1 hektare.
