Refleksi Kritis Peringatan Hari Kartini

Pada 21 April adalah hari dimana peringatan Hari Kartini bukan semata-mata. Sematan tanggal ataupun hari yang dipilih akan tetapi ada semacam garis besar sejarah yang perlu kita ingat.

Banyak yang merayakan Hari Kartini dengan sebuah acara-acara besar, seminar, bahkan lomba – lomba tingkat nasional, tetapi barangkali, penulis hanya bisa merayakan Hari Kartini dengan menyemai gagasan dalam bentuk goresan kalimat.

RA. Kartini bagi penulis ialah ibu kandung perlawanan dan kebangkitan pendidikan perempuan Indonesia, bagaimana tidak, pemberontakannya dalam melawan belenggu realitas patriarkis pada masa itu menghasilkan sesekup “kebebasan” (perempuan merdeka).

Ada slogan yang terjenal dari RA. Kartini yang tidak asing kita dengar yakni “Habis Gelap Terbitlah Terang” menggambarkan di setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Diketahui ia sering membaca buku – buku tentang perempuan yang maju di barat, sehingga membawanya mendirikan sekolah perempuan di Indonesia.

Dalam realitas masa modern saat ini hanya sedikit dari perempuan Indonesia yang mampu menjajali jejak perempuan hebat kita di Indonesia, terkhusus dalam pendidikan tinggi, sebab budaya patriarkis kita memang masih sangat tinggi. Lagi – lagi karena persoalan bisa gender, bahkan di desa – desa banyak kita temukan perempuan hanya bisa bersolek dan memasak, cukup jarang ada perempuan desa yang melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, bahkan banyak yang memilih untuk menikah muda.

Persoalannya lagi – lagi hanya karena anggapan peran perempuan hanya pada ranah domestik (sumur, dapur, kasur), padahal potensi – potensi antara perempuan dan laki – laki setara dalam persoalan pendidikan dll.

Sebelumnya, pada abad 19 budaya patriarki dipahami oleh para ilmuwan sosial sebagai bentuk organisasi yang kompleks dibandingkan dengan matriarki primitif.

Frederic Angels dalam bukunya The Origin of the Family, Private Property, and the State yang diterbitkan tahun 1884 menyebut budaya patriarki sebagai sistem dominasi paling awal dan tercatat dalam ‘sejarah dunia’ mengenai kekalahan jenis kelamin perempuan.

Sejumlah teori feminis memperbarui definisi mengenai patriarki, menurut teori feminis, patriarki lebih dari distribusi kekuasaan yang tidak merata tetapi menyentuh aspek kehidupan, termasuk hukum, ekonomi, pendidikan, hingga ruang lingkungan hidup.

Dalam peringatan Hari Kartini ini, harapan penulis bukan hanya sekedar perayaan yang mewah dan wah, tetapi bagaimana mengkoreksi dan melihat berdasarkan realitas sosial bahwa memang bias gender ini selalu menjadi masalah yang serius, yang berpengaruh terhadap kepercayaan diri perempuan untuk menjadi perempuan yang merdeka dan terbebas dari rantai belenggu ikatan patriarkis

dewatogel88

dewatoto

dewaslot88

dewaselot

dewatoto

dewaselot

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777