Pertanian Presisi Berbasis Smart Farming Jadi Kunci Hadapi Tantangan ke Depan
LOTIM LOMBOKita — Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, L. Pathul Kasturi, menyebut pertanian presisi berbasis “smart farming” menjadi solusi utama untuk menjawab tantangan pertanian ke depan seperti anomali iklim, degradasi lahan, dan regenerasi petani.
“Yang menjadi tantangan terbesar ke depan dalam mengembangkan pertanian yaitu terjadinya anomali iklim, kondisi lahan akibat perubahannya semakin masif, serta umur petani di atas 60 tahun,” ujarnya. Selasa
Apalah pemerintah telah menerbitkan UU No 41 Tahun 2009 untuk melindungi lahan pertanian pangan berkelanjutan. Di Lotim, luas lahan pertanian yang dilindungi atau LP2B tercatat 37.345 hektar. Dilain pihak tiap tahun jumlah penduduk makin bertambah.
“Kalau dirata-ratakan kepemilikan lahan kita hanya 0,15 hektar. Dengan kondisi itu, lahan untuk tempat berlindung dan mencari nafkah jadi hal yang tidak bisa dipungkiri,” jelasnya.
Berdasarkan kajian akademis, dengan asumsi penambahan jumlah penduduk 15 ribu jiwa per tahun, dalam 35 tahun ke depan Lotim masih bisa dikatakan surplus pangan dengan lahan yang ada saat ini.belum lagi usia petani yang sudah tidak produktif lagi. Hal ini juga tetap menjadi tantangan
“Ke depan bagaimana mencetak petani milenial sebagai penerus.dengan program Pertanian berbasis farming. Yaitu merubah mindset yaitu Berusaha tani itu usaha yang baik dan menguntungkan,” ujar Pathul.
Menurutnya, harga komoditas saat ini menjanjikan. Harga padi dan jagung di tingkat petani bagus dan sudah dijamin pemerintah. Hal ini diharapkan bisa membangkitkan animo generasi muda untuk kembali ke sektor pertanian.
Dinas Pertanian Lotim saat ini sudah membentuk kelompok tani milenial. Targetnya menyiapkan lahan 200 hektar. “Baru terbentuk 2 kelompok,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan iklim, Pathul menyebut kuncinya adalah bertani melawan musim melalui pertanian presisi berbasis smart farming.
“Pertanian presisi berbasis data dan digitalisasi. Smart farming berbasis mekanisasi. Dengan ini kita bisa memberikan input produksi sesuai takaran,” ujarnya.
Contohnya penanaman cabai yang selama ini menyumbang inflasi saat musim hujan. Dengan konsep smart farming dan screen house yang sedang dibangun Bupati Lotim, cabai bisa diproduksi sepanjang tahun.
Ia menegaskan mekanisasi tidak untuk mengurangi tenaga kerja, melainkan dipadukan. Sebab pada musim panen, upah buruh tani sangat tinggi dan menjadi beban petani.
“Apapun digitalisasi dan mekanisasi, tanpa tenaga kerja yang handal tidak bisa bergerak. Makanya kapasitas SDM harus ditingkatkan. Penyuluh, kelompok tani kita latih. Petani sekarang punya HP Android, bisa belajar dari Google,” katanya.
Ke depan, Dinas Pertanian juga akan menggandeng perguruan tinggi untuk mengubah mindset petani agar mau menerima teknologi.
“Perubahan mindset butuh waktu dan biaya. Tapi ini solusi ke depan. Perubahan iklim tidak bisa kita baca, degradasi lahan semakin masif. Tapi dengan pertanian presisi dan smart farming kita yakin ketahanan pangan Lotim tetap terjaga,” pungkas Pathul.
