Angkat Masalah Lontar Sasak, Tim KIR MAN 1 Lotim Melaju ke Semifinal OMI Riset Kemenag RI
LOTIM LOMBOKitq– Prestasi akademik dan karya ilmiah kembali ditorehkan siswa MAN 1 Lombok Timur. Tim Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) madrasah tersebut berhasil terpilih ke 30 besar tingkat nasional dan melaju ke babak semifinal OMI Riset Kementerian Agama RI tahun 2026.
Tim KIR MAN 1 Lotim diperkuat dua siswa, yaitu *Ummul Karomah* dan *Bq. Gischelle Khansa Azzahra*. Keduanya mengangkat judul penelitian _”Rekonstruksi Ekoteologi dalam Naskah Lontar Sasak Rengganis sebagai Model Etika Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal”_.
Saat ini tim sedang melakukan persiapan untuk presentasi semifinal menuju 5 besar, ungkap Pembina KIR MAN 1 Lotim, Bohari Muslim.
Dalam penelitiannya, Ummul dan Gishelle dilatarbelakangi krisis lingkungan yang terjadi di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah krisis ekologi di masyarakat.
“Krisis tersebut menunjukkan bahwa penanganan dalam bentuk kebijakan dan teknologi saja tidak cukup. Dalam menangani krisis ekologi, integrasi antara ajaran agama dan kearifan lokal dapat menjadi solusi,” jelas Bohari.
Salah satu bentuk kearifan lokal yang dipilih adalah naskah kuno Lontar Rengganis. Di dalamnya berisi berbagai pengajaran tentang relasi antara manusia, alam, dan Tuhan. Pengajaran tersebut juga sesuai dengan dalil-dalil yang terdapat di dalam Al-Qur’an.
Sehingga, bentuk pengintegrasian ini dapat dijadikan sebagai model etika lingkungan bagi masyarakat.
Atas torehan prestasi ini, Kepala MAN 1 Lotim HL Sundane mengungkapkan rasa syukur. Ia berharap di jeda waktu yang ada, tim siswa bisa memaksimalkan diri untuk pendalaman agar presentasi semifinal meraih hasil maksimal.
“Peran pembina sangat penting dan kita berharap tahun ini, tim siswa MAN 1 Lotim bisa mengulang sejarah. Karena beberapa tahun lalu juga pernah meraih juara pada lomba saat pelaksanaan OMI di Bengkulu dan Manado,” ungkap Lalu Sundane.
Keberhasilan ini menambah deretan prestasi akademik MAN 1 Lotim di tingkat nasional dan menjadi bukti bahwa riset berbasis kearifan lokal mampu bersaing di ajang bergengsi Kementerian Agama RI.
