Membangun Optimisme Ekonomi Indonesia 2018
Faktor dari sisi investasi data BPS menunjukkan pola yang menggembirakan. Pada triwulan III 2017, pertumbuhan investasi meningkat menjadi 7,1 persen. Ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan investasi sejak Juni 2013. Jika dilihat secara lebih rinci, pertumbuhan investasi yang terjadi disebabkan pertumbuhan investasi dalam mesin dan peralatan.
Memang yang menimbulkan pertanyaan ialah bahwa pertumbuhan investasi yang meningkat ini tak sejalan dengan data pertumbuhan kredit investasi yang cenderung menurun.
Dugaannya sebut pengamat lagi ekspansi ini lebih didorong investasi pemerintah atau investasi yang dibiayai dari sebagian arus modal yang masuk ke Indonesia. Lepas dari sumbernya, kenaikan investasi ini sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan impor, yang sebagian besar didominasi bahan baku dan barang modal.
“Jadi meningkatnya pertumbuhan impor sejalan dengan kecenderungan perusahaan untuk melakukan ekspansi usahanya. Hal lain yang diduga juga mendorong investasi ialah membaiknya iklim usaha, sejalan dengan perbaikan rangking bisnis.
Tetap waspada Dari perspektif ini Indonesia punya alasan untuk lebih optimistis pada 2018. Dengan gambaran ini, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi ada pada kisaran 5,1 persen 5,3 persen.
Pertanyaannya ialah apakah ini akan berkesinambungan dan apa risiko yang mungkin mengganggu, ia kembali memperkirakan seberapa jauh pertumbuhan ekonomi akan meningkat bakal masih bergantung kepada konsumsi rumah tangga karena porsinya masih relatif besar.
Jika dampak positif dari kenaikan komoditas dan energi akan terasa di konsumsi rumah tangga, diharapkan pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Namun, bila pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap mandek karena belum ada perbaikan daya beli yang signifikan di kelas bawah, ekspansi investasi tak akan berkesinambungan. Karena apa gunanya meningkatkan ekspansi usaha jika tak ada permintaan.
