Catherine, Svetlana dan Pancasila
Di tengah polemik dan kontroversi atas kebangkitan komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI), persahabatan Catherine Pandjaitan dan Svetlana Dayani perlu diungkapkan kembali untuk menggambarkan betapa luka masa kelam sejarah bangsa pada 1965 tak perlu dipolitisasi.
Justru apa yang dilakukan Catherine dan Svetlana bisa menginspirasi menyongsong masa depan bangsa tanpa dihantui oleh tragedi masa lalu meskipun bagi sebagian orang, terutama yang mengalami, sulit sekali dilupakan. Pengalaman masa lalu yang sangat buruk semestinya menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk kehidupan bangsa yang lebih baik dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.
Catherine dan Svetlana merupakan sebagian kecil dari banyak orang yang mengalami masa kelam sejarah bangsa ini pada 1965.
Catherine, putri sulung Mayor Jenderal Anumerta Donald Issac Pandjaitan, harus menjadi yatim pada usia 17 tahun karena ayahnya ditembak mati oleh sekumpulan tentara pro-PKI pada Jumat dini hari 1 Oktober 1965. Ia histeris menyaksikan ayahnya di bunuh di depan rumahnya saat dibawa paksa oleh sekelompok tentara.
Svetlana, putri bungsu pasangan mantan Menteri Negara/Wakil Ketua Committee Central PKI Njoto dan RA Sutarni, juga menjadi yatim pada usia 9 tahun, karena ayahnya dieksekusi tentara dalam penumpasan PKI dan ibunya dari keluarga ningrat kerabat Keraton Mangkunegaran dipenjara.
Seiring perjalanan waktu, dua wanita itu kini menjadi “kakak beradik” sebagai keluarga yang sama-sama mengalami tragedi 1965.
Keduanya pernah hadir sebagai peserta dan memberikan kesaksian pada “Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan” yang diselenggarakan Kemenkopolhukam, Komnas HAM, dan Wantimpres, di Jakarta 18-19 April 2016.
Svetlana menceritakan bahwa Catherine sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri karena sangat memperhatikan dan mengurus dia. Orang lain yang melihat persahabatan mereka pasti heran.
Selama berpuluh tahun Svetlana hidup dalam ketakutan, menyembunyikan identitasnya karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepada orang yang telah baik menampung dirinya.
Svetlana yang tak tahu di mana jenazah ayahnya dimakamkan menceritakan pernah sekali saya menginap satu malam di rumah pamannya, dan sejak itu pamannya ditahan berbulan-bulan karena menampung dia. Geraknya terbatas dan tidak dapat melakukan hal yang diinginkan karena takut identitasnya terbongkar.
