Catherine, Svetlana dan Pancasila
Sudah lebih 50 tahun berlalu, Svetlana kadang masih merasakan bertemu dengan teman-teman senasibnya, masih ada pihak yang mengira mereka mau menghidupkan kembali komunis.
Sementara Catherine tak akan pernah lupa terhadap peristiwa yang merenggut nyawa ayahnya, meskipun telah memaafkan orang yang telah dengan keji merenggut nyawa ayahnya.
Dia menjadi saksi mata saat ayahnya dijemput paksa segerombolan orang berseragam hijau.
Catherine beserta adiknya mengintip ayahnya dari lantai dua rumah mereka di Blok M, dan orang-orang tersebut menyuruh ayahnya untuk hormat, tetapi DI Pandjaitan menolak, malah mengangkat tangan seraya berdoa.
Mungkin mereka marah dan langsung menembak kepala ayahnya. Otaknya berceceran. Catherine berlari ke lantai bawah tetapi ayahnya sudah tidak ada, dibawa pergi. Catherine hanya melihat darah membentuk garis memanjang ke luar rumah seperti bekas seretan.
Ayahnya tewas dibantai, begitu pula dengan sembilan nama lain yang kemudian dikenal dengan 10 pahlawan revolusi.
Mereka adalah Jenderal (anumerta) Ahmad Yani yang saat terakhir hidupnya menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letjen (anumerta) Suprapto, Letjen (anumerta) MT Haryono, Letjen (anumerta) Siswondo Parman, Mayjen (anumerta) DI Panjaitan, Mayjen (anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, Kapten CZI (anumerta) Pierre Tendean yang merupakan ajudan dan mengaku Jenderal Abdul Haris Nasution untuk menyelamatkan Nasution yang saat itu menjabat Menhankam dari aksi penculikan di rumahnya, Ajun Inspektur Polisi II (anumerta) Karel Satsuit Tubun, dan dua lagi yang tewas setelah dibunuh di Yogyakarta yakni Brigjen (anumerta) Katamso Darmokusumo dan Kolonel (anumerta) Sugiono.
Catherine sadar ada orang yang hidupnya lebih menyakitkan dibandingkan dirinya. Setidaknya Catherine tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti mereka yang pernah dicap PKI. Catherine langsung memeluk mereka satu persatu dan meminta maaf, saat dipertemukan pada sebuah acara di stasiun televisi.
Menurut Catherine, sudah saatnya semua pihak saling memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Tidak mungkin mewariskan dendam kepada anak cucu.
Persahabatan Catherine dan Svetlana sebagai sesama satu bangsa menjadi lembaran baru sejarah bangsa ini. Kisah persahabatan mereka bisa menginspirasi bagi bangsa ini.
“Saya Pancasila” Pemerintahan Presiden Joko Widodo pun berupaya keras membumikan Pancasila, begitu pula yang dilakukan MPR RI melalui sosialisasi tanpa henti mengenai empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan RI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Penyadaran kembali nilai-nilai kebangsaan berdasarkan Pancasila begitu giat dilakukan kepada masyarakat. Bahkan untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni pada tahun ini ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional. Penetapan Hari Lahir Pancasila sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Joko Widodo Nomor 24 Tahun 2016 tertanggal 1 Juni 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.
