Pemprov Jamin Proyek Revitalisasi Pantai Ampenan Tuntas
LOMBOKita – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menjamin proyek revitalisasi Pantai Ampenan tuntas sesuai kontrak yang ditetapkan.
“Karena itu, masyarakat tidak perlu ragu dan khawatir lagi terhadap akan terbengkalainya dua proyek yang saat ini sedang dikerjakan pihak provinsi,” kata Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana di Mataram, Senin.
Pernyataan itu dikemukakannya menanggapi masih minimnya volume pekerjaan dua proyek pemerintah provinsi yang menjadi bagian revitalisasi Pantai Ampenan.
Dua proyek yang dimaksud adalah pembangunan lapak pedagang kaki lima (PKL) dikerjakan Dinas Perdagangan NTB dengan nilai kontrak Rp500 juta dan pembangunan ruang publik oleh Dinas Pariwisata NTB nilai kontrak Rp700 juta, dimana realisasinya masih terlihat minim sebab baru ada pembangunan fondasi saja.
Dikatakan, jaminan proses pembangunan dua proyek tersebut tuntas sesuai kontrak yakni tanggal 17 Desember 2017, sesuai hasil koordinasi dengan pihak provinsi.
“Mereka berani menjamin, karena kontraktor sudah berhitung juga untuk menyelesaikan proyek tersebut,” katanya.
Menurutnya, tertundanya pembangunan dua proyek tersebut salah satunya disebabkan lambatnya proses relokasi PKL, seiring dengan adanya kegiatan Festival Ampenan Tempo Doeloe.
Terkait dengan itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat khususnya pedagang di kawasan tersebut untuk bersabar menunggu proses pengerjaan dua proyek itu.
“Pembangunan dua proyek ini akan memberikan dampak dan manfaat signifikan bagi pedagang, masyarakat sekitar dan warga kota secara umum,” ujarnya.
Pasalnya, revitalisasi bekas Pelabuhan Ampenan akan dibangun dengan desain gaya modern namun tetap mempertahankan budaya lokal seperti lumbung, motif batik songket, dan bentuk bangunan yang memperkuat Ampenan sebagai kota tua.
“Bangunan-bangunan yang ada saat ini ditata kembali agar bisa terlihat lebih indah dan memiliki kekhasan sebagai ikon Kota Mataram, sekaligus daya tarik bagi wisatawan,” katanya.
Ditakan, dalam desainnya taman di bagian utara itu akan dilengkapi dengan mini teater yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan.
Bagian atas mini teater ini akan ditutup dengan desain berbentuk keong yang sebenarnya adalah lumbung, rumah khas adat suku sasak.
“Dekorasi taman dan dinding taman dibuat seperti halnya motif kain songket Lombok, begitu juga dengan lapak PKL memiliki kekhasan budaya lokal,” ujarnya.
