Pentingnya Hiburan Hilangkan Stres Pengungsi Gunung Agung
Dalam kondisi aman dan tentram, belum tentu kita bisa terlepas dari stres atau tekanan, apalagi dalam kondisi yang tidak biasa seperti saat bencana.
Tinggal di pengungsian dengan kondisi serba terbatas, meninggalkan kehangatan rumah dengan segala isinya. Belum lagi yang mengalami luka bahkan kehilangan anggota keluarga akibat bencana.
Stres yang dialami tentunya berbeda bagi anak-anak korban bencana, trauma mendalam bisa saja membekas hingga dewasa karena jiwa kecil mereka akan terus mengingat peristiwa yang terjadi.
Mereka yang biasa ke sekolah, bermain bersama teman-teman untuk sementara waktu harus kehilangan kebahagian kecil itu selama di pengungsian.
Karenanya mereka butuh hiburan, butuh tetap belajar dan bermain agar melupakan kenangan kelam yang ditimbulkan oleh bencana.
Hiburan yang diberikan bisa dalam bentuk apa saja, mulai dari bermain, menggambar, mendongeng dan bernyanyi seperti yang dilakukan Tim Layanan Dukungan Psikososial Kementerian Sosial.
Dalam setiap penanganan bencana, Kementerian Sosial selalu menurunkan tim LDP untuk penanganan trauma korban bencana. Seperti pada saat meningkatnya status Gunung Agung di Bali menjadi Awas pada Jumat (23/9) malam.
Tidak tanggung-tanggung, orang nomor satu di Kementerian Sosial pun langsung turun untuk menghibur anak-anak di posko pengungsian pada akhir September lalu.
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak anak-anak bermain, bernyanyi dan bercerita. Ia juga membagikan hadiah mainan berupa raket bulutangkis, bola plastik, mobil-mobilan, dan lain sebagainya kepada anak-anak pengungsi.
Khofifah mengatakan, hiburan kepada anak-anak di pengungsian sangat penting guna menghindarkan anak-anak pada situasi yang membuat mereka stres.
Ajakan bernyanyi dan bermain, menurut Khofifah, mampu membuat anak-anak sejenak melupakan bencana yang telah memaksa mereka berada di pengungsian.
Dalam layanan dukungan psikososial, anak-anak dikumpulkan dalam tenda di ruang terbuka. Oleh tim mereka diceritakan dongeng rakyat, diajak bernyanyi, dan bermain. Semua itu dilakukan setelah seluruh anak pulang dari sekolah.
Tetap Semangat Salah seorang anak, Wayan (12), warga Kecamatan Abang, mengatakan sangat terhibur dengan berbagai permainan yang diselenggarakan tim LDP Kementerian Sosial.
“Pokoknya senang, banyak sekali dongeng yang diceritakan. Di sini juga banyak teman-teman,” tuturnya.
Senada dengan Wayan, Angga (9) anak di pengungsian Desa Pengotan mengatakan sangat senang bisa bertemu langsung dengan Menteri Sosial. Ini adalah kali pertama ia bisa bertemu dengan seorang menteri.
Kepada anak-anak, Khofifah berpesan untuk tetap semangat belajar menggapai cita-cita dan bersabar dalam menghadapi situasi bencana.
Meski bencana mengganggu aktivitas sekolah mereka, jangan sampai memadamkan semangat untuk terus belajar walau dalam kondisi serba terbatas dan tidak nyaman di pengungsian.
Bukan hanya saat bencana Gunung Agung, di bencana-bencana alam yang terjadi sebelumnya juga Khofifah terus memberikan semangat kepada anak-anak pengungsi. Kadang ia juga membagikan perlengkapan sekolah kepada mereka.
Untuk lebih menghibur anak-anak di pengungsian, biasanya Kementerian Sosial juga menggandeng pemerhati anak Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto untuk memberikan motivasi dan hiburan.
Biasanya Kak Seto mendongeng dan mengajak anak-anak berinteraksi dalam dongeng serta mengajak mereka bernyanyi bersama.
Hal itu dilakukan untuk membangkitkan keceriaan dan menjaga kesehatan mental anak-anak di pengungsian.
Menurut Kak Seto, penanganan trauma korban terutama anak-anak harus lebih awal dilakukan sehingga luka jiwa akibat bencana tidak terus membekas.
Karena itu pendampingan psikososial seperti memberi hiburan kepada anak-anak harus sejak dini diberikan di pengungsian agar mereka tidak terus terkurung dalam kesedihan akan ingatan bencana.
Prioritaskan Keselamatan Dalam setiap bencana, pemerintah memprioritaskan keselamatan warga serta berupaya mengurangi dampak kerugian yang timbul akibat bencana.
Prioritas keselamatan antara lain dengan membuat posko pengungsian sehingga warga di sekitar lokasi bencana bisa langsung mengungsi dan kebutuhannya tetap terjamin.
Untuk itu, pemerintah juga memastikan kebutuhan pokok para pengungsi tetap terpenuhi agar bisa tetap nyaman selama di pengungsian sebab masalah utama yang harus terselesaikan dalam bencana adalah ketersediaan logistik yang cukup.
Sesuai data Kementerian Sosial, sedikitnya dibutuhkan 30 ton beras per hari untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh pengungsi Gunung Agung.
Sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2012 pasal 11 dan 12 disebutkan bahwa Bupati/walikota mempunyai kewenangan menggunakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk penanganan tanggap darurat akibat bencana yang terjadi di wilayahnya paling banyak 100 ton dalam kurun waktu satu tahun. Jika lebih maka harus mendapatkan persetujuan gubernur.
Sedangkan Gubernur, mempunyai kewenangan menggunakan CBP untuk paling banyak 200 ton dalam kurun waktu satu tahun. Dan jika lebih, maka harus mendapatkan persetujuan Menteri.
Begitu juga dengan pendampingan psikososial, menjadi prioritas untuk keselamatan jiwa-jiwa penerus bangsa, yaitu anak-anak Indonesia agar mereka semakin kuat dan tahan terhadap berbagai cobaan termasuk bencana.
