Lebih Fokus Menumbuhkan Perekonomian, Aspek Pendidikan di NTB Kurang Prioritas
Dalam bahasa Inggris pendidikan berarti education. Sedangkan dalam bahasa latin berarti educatum yang berasal dari kata E dan Duco, E berarti perkembangan dari luar dari dalam ataupun perkembangan dari sedikit menuju banyak, sedangkan Duco berarti sedang berkembang. Dari sinilah, pendidikan bisa juga disebut sebagai upaya guna mengembangkan kemampuan diri.
Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan sesorang. Karena dengan adanya pendidikan seseorang dapat menambah ilmu untuk memberdayakan diri dan orang lain, mampu mengembangkan ide, dan melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat melalui pilihan yang rasional.
Selain itu, pendidikanlah yang menentukan dan menuntun masa depan dan arah hidup seseorang. Walaupun tidak semua orang berfikir sama seperti itu, namun pendidikan tetaplah menjadi kebutuhan utama seseorang. Bakat dan keahlian seseorang akan terbentuk dan dapat diasah melalui pendidikan. Pendidikan juga umumnya dijadikan tolak ukur kualitas setiap orang. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin disegani oleh orang lain.
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pengertian pendidikan ialah tuntunan tumbuh dan berkembangnya anak. Artinya, pendidikan merupakan upaya untuk menuntun kekuatan kodrat pada diri setiap anak agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat yang bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup mereka.
Selain itu, H. H. Horne, pendidikan ialah sebuah alat di mana komunitas sosial mampu melanjutkan keberadaan dalam mempengaruhi diri sendiri dan mempertahankan idealisme.
Baca juga:
Pendidikan di Indonesia di mulai sejak masa Hindu-Budha yang memiliki keunggulan bahwa pada masa itu tidak hanya mempelajarai cara untuk bertahan hidup. Kemudian dilanjudkan pada masa Islam yang dimana pada pendidikan ini mengajar perbedaan dan lebih terbuka, pendidikan di masa ini dapat dimiliki oleh siapa saja baik itu laki-laki, perempuan, kaya, miskin. Kemudian terus berganti dari masa pendidikan kolonial belanda, masa pendidikan Jepang, masa pendidikan orde lama, masa pendidikan orde baru, dan masa pendidikan di era reformasi.
Pada masa pendidikan orde lama, sudah mulai mengenal dan menerapkan kurikulum di dalam pembelajaran. Pada masa ini kurikulum pendidikan sudah mengalami tiga kali pergantian mulai dari kurikulum 1947, kurikulum 1952 dan kurikulum 1968. Sementara pada masa pendidikan orde baru sudah menerapkan empat kurikulum yakni kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, dan kurikulum 1994. Kemudian pada masa pendidikan di era reformasi 1999 mengubah wajah sistem pendidikan Indonesia melalui UU No22 tahun 1999. Dengan ini pendidikan menjadi sektor pembangunan yang didesentralisasikan. Pemerintah memperkenalkan model “Manajemen Berbasis Sekolah”.
Sementara untuk mengimbangi kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibuat sistem “Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Setelah itu muncul kurikulum yang dinamakan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006 adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh, dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar, dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006, dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Kondisi seperti ini menunjukan bahwa pendidikan di Indonesia yang semakin tahun mengalami perubahan dan perkembangan dengan mempetimbangkan kondisi sosial yang terjadi terlihat dari pembaharuan dari kurikulum dan peraturan yang di buat oleh Menteri Pendidikan dengan tujuan mencapai kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia di bidang pendidikan.
Akan tetapi, beberapa permasalahan pendidikan masih belum bisa terselesaikan secara merata di Indonesia, terutama di wilayah pulau Lombok, NTB. Kualitas pendidikan NTB berada pada urutan 33 dari 34 provinsi di Indonesia (Zamhuri, 2019).
Permasalahan yang dirasakan oleh masyarakat Lombok, NTB yakni timbul dari fasilitas dan infrastruktur pendukung untuk melakukan kegiatan pendidikan itu sendiri, baik berupa tenaga pengajar, gedung sekolah yang belum bagus maupun akses jalan yang masih sulit dilalui menuju tempat pendidikan atau sekolah.
Di lansir dari Inside Lombok, salah satu contoh yaitu akses jalan yang dilalui untuk menuju SD-SMPN Satap 6 yang berada di Praya Barat Lombok Tengah. Curah hujan yang deras memperparah aksen jalan yang dilalui oleh siswa dan guru sehingga untuk menuju sekolah para siswa dan guru mengalami kesulitan, harus membutuhkan usaha lebih untuk dapat sampai ke tujuan sehingga tidak jarang para guru terlambat untuk mengajar para siswa.
Hal serupa juga terjadi di Dusun Tuti, Desa Sokong, KLU. Amaq Dian mengatakan, jalan tersebut tidak pernah mengalami perbaikan sejak KLU terbentuk. Sedangkan jalan tersebut juga digunakan oleh anak-anak sekolah. Tidak kunjung diperbaiki jalan tersebut ditanami pohon pisang oleh masyarakat setempat.
Sulinya akses pendidikan sehingga menyebabkan terlambatnya para guru untuk mengajar para siswa menunjukan bahwa masih banyak tantangan yang harus dilakukan untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan di Lombok, NTB sebagaimana yang dicita-citakan.
Seperti yang kita ketahui bahwa pemerintah sedang fokus bagaimana cara menumbuhkan perekonomian masyarakat NTB dengan upaya memanfaatkan berbagai tempat wisata diantaranya derah wisata di daerah pantai Kuta Mandalika Lombok Tengah yang kini sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika (KEK Mandalika) dengan dibangunnya Pertamina Mandalika International Street Circuit.
Fokusnya pemerintah dalam upaya menumbuhkan perekonomian masyarakat di NTB ini seolah menomorduakan aspek pendidikan terlihat dari infrastruktur jalan yang sulit diakses untuk mengajar oleh guru dan bersekolah untuk siswa padahal SD-SMPN Satap 6 berada tidak terlalu jauh dari KEK Mandalika, hanya berjarak 23 km. Seharusnya upaya untuk menumbuhkan perekonomian di suatu daerah harus sejalan dengan upaya pemerintah dalam memajukan kualitas pendidikan yang baik melalui perbaikan infrastruktur maupun sarana, prasarana pendidikan di daerah-daerah pelosok. Semakin tinggi Sumber Daya Manusia (SDM) di suatu daerah akan semakin mudah pula upaya untuk menumbuhkan perekonomian di suatu daerah.
Oleh sebab itu penulis ingin mengajak para pembaca dan mahasiswa untuk lebih peduli dengan pendidikan yang ada di daerah sekitar kita dengan menulis berbagai opini terkait isu-isu pendidikan yang terjadi agar pemerintah lebih memperhatikan lagi pendidikan di NTB sehingga upaya untuk menumbuhkan perekonomian, juga mampu memperbaiki kualitas pendidikan di NTB mengingat bahwa kualitas pendidikan di NTB berada pada urutan 33 dari 34 provinsi di Indonesia.

1 Komentar
Komentar ditutup.