Command Center Lotim Belum Maksimal, Kadis Kominfo: Jaringan dan SDM Masih Terbatas
LOTIM LOMBOKita – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Lotim, DR.H Pauzan, mengakui teknologi informasi di Kabupaten Lombok Timur belum berjalan maksimal dan belum menjangkau seluruh wilayah.
Menurutnya, kemampuan _command center_ masih sangat terbatas. Salah satu kendala, pengerjaan oleh pihak ketiga belum tuntas 100% namun vendor sudah pergi.
“Belum 100% selesai pengerjaannya, pihak ketiga sudah pergi. Saya tidak tahu masalahnya di mana. Katanya karena kita pindah dari Indosat ke Telkomsel,” ujar Pauzan.
Ia menambahkan, seharusnya vendor memiliki kewajiban melatih SDM Kominfo untuk menjalankan fungsi “command center” tetapi hal itu tidak dilakukan.
Saat ini, “command center” sudah dilengkapi CCTV di titik-titik strategis, termasuk wilayah perbatasan Lombok Timur-Lombok Tengah dan beberapa perempatan di Selong. Ke depan, Kominfo akan menambah titik CCTV, salah satunya di Sembalun yang rawan kecelakaan.
Selain pemantauan, “command center” juga memuat data statistik sektoral dari seluruh OPD, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dukcapil. Lebih dari 1.000 data sudah masuk ke portal Satu Data Lombok Timur dan bisa diakses publik.
Pauzan juga menyoroti Sistem Informasi Desa yang belum terintegrasi ke “command center” karena mayoritas desa belum menggunakan SID Premium. Padahal, biaya SID Premium hanya Rp1 juta per desa per tahun.
“Kalau semua desa pakai SID Premium, Bupati bisa cek data desa mana pun lewat “command center” hanya dengan sekali klik,” katanya. Ia berharap Dinas PMD menerbitkan surat edaran agar desa beralih ke SID Premium.
Terkait transparansi, Kominfo mengandalkan aplikasi Lapor. Pauzan menyebut 92% aduan ditindaklanjuti OPD terkait. “Lapor bupati, cukup banyak yang masuk, dan Identitas pelapor dijamin aman,” tegasnya.
Untuk konektivitas, Pemkab Lotim telah menyediakan internet gratis di 222 lokasi menggunakan satelit khusus. Pemerintah daerah hanya menyiapkan listrik. Sementara wilayah lemah sinyal tersisa di 7 lokasi.
“Lombok Timur sudah tidak ada _blank spot_. Kabupaten lain masih ada yang sampai 40 titik,” jelas Pauzan. Lemah sinyal terjadi karena ketidaksesuaian provider. Contoh di Jerowaru, jaringan Telkomsel kuat, tetapi warga banyak memakai XL.
Pauzan menegaskan pihaknya terus melengkapi fungsi “command center”. Namun keterbatasan anggaran membuat sistem belum berjalan sesuai hajat awal.
“Harapannya ini jadi perhatian, karena pusat transparansi sebenarnya ada di ” command center”.Siapa pun bisa melihat kondisi Lombok Timur dari sana,” pungkasnya.
