Tenun Sapit Lotim Resmi Diakui Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 🇮🇩

Keterangan foto :kadis Dikbud lotim m nurul wathoni

LOTIM LOMBOKita – Setelah beberapa bulan berproses, akhirnya Kain Tenun Sapit diakui Kementerian Kebudayaan RI sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia asal Lombok Timur.

Kain tenun khas Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, memiliki beberapa motif tradisional yang sarat nilai budaya dan sering digunakan dalam upacara adat. Jenis dan motif Tenun Desa Sapit antara lain Ragi Sapit, kain tenun dengan corak khas lokal, kemudian Abang Tongkel yang sering digunakan sebagai kain atau busana adat harian/resmi di lingkungan pemerintah desa setempat, dan terakhir Ragi Sangkep Kerap yang difungsikan sebagai kain dodot atau pelengkap busana adat Sasak.

Setelah melalui proses perjuangan yang cukup panjang dari tim kebudayaan Dikbud Lombok Timur karena sempat terjadi penundaan akibat kekurangan dokumen, akhirnya Jumat, 5 November 2026, pihak Kementerian Kebudayaan RI merekomendasikan Tenun Sapit Suela sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia asal Desa Sapit Suela, Lombok Timur.

Pengakuan ini penting agar warisan budaya tak benda ini tidak dapat diklaim pihak lain, termasuk bagian dari upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya tak benda milik bangsa Sasak, tegas Nurul Wathoni selaku Kadis Dikbud didampingi Kabid Kebudayaan Abdul Hayyi.

Lanjut Hayyi, saat ini pihak Bidang Kebudayaan bersama tim terus berikhtiar di tengah keterbatasan anggaran untuk memperjuangkan usulan beberapa warisan budaya benda maupun tak benda di Lombok Timur agar bisa mendapatkan legalitas formal berupa sertifikat pengakuan dari Kementerian Kebudayaan RI maupun lembaga lainnya.

“Karena pengakuan ini penting sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dan sebagai generasi penerus dalam menjaga dan merawat warisan budaya daerah dan bangsa. Dan ke depan kita berharap dukungan pemerintah semakin kuat dengan keberpihakan anggaran sehingga warisan budaya Sasak di Lombok Timur ini bisa terus kita ajukan karena pembiayaannya lumayan karena harus ada kajian ilmiah tim termasuk tahapan yang harus dilalui cukup panjang,” cerita Hayyi.