Rupiah Melemah, Pengusaha Ikan Diuntungkan, Tapi Terkendala Kuota BBM

Keterangan foto: HM Saleh salah seorang pengusaha Ikan di Lotim

LOTIM LOMBOKita – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar dinilai menguntungkan pengusaha ikan yang berorientasi ekspor di Lombok Timur. Namun, mereka tetap menghadapi kendala terkait kuota bahan bakar minyak [BBM] untuk kapal.

menurut HM Soleh salah seorang pengusaha kapal dan ikan, yang juga berstatus sebagai supplier bahan baku, mengatakan, saat rupiah melemah, harga jual produk ekspor otomatis naik.

“Kalau orientasinya ekspor, harga pasti bisa dinaikkan. Rupiah melemah, harga naik. Itu keuntungan bagi pengusaha, khususnya ikan,” ujarnya.

Menurut M Soleh, musim ikan tahun ini sedikit mundur. Biasanya dimulai awal April-Mei, namun tahun ini baru mulai pertengahan Mei. Saat musim panen, jumlah kapal yang datang ke Lotim akan meningkat karena hasil tangkapan melimpah. Dan memunculkan permasalahan, kuota BBM di SPBN masih tetap.

“Misalnya kuota sebulan 200 ton, ya tetap segitu. Sementara kalau hasil tangkapan melimpah, kapal yang datang juga makin banyak. Kendalanya hanya di BBM,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihaknya sudah menjalin koordinasi dengan pemasok dari Sulawesi untuk mengantisipasi peningkatan pasokan. saleh berharap pemerintah pusat bisa menambah kuota BBM seiring meningkatnya aktivitas melaut.

Soal pasar, tidak semua hasil tangkapan diekspor. Produk yang tidak lolos standar ekspor atau _reject_ dipotong dan dipasarkan untuk kebutuhan lokal, termasuk untuk program dapur Makan Bergizi Gratis [MBG] di Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat.

“Sekarang harganya lagi bagus-bagusnya. Yang spot tunai biasanya ekspor ke Amerika. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara juga ada. Tapi sebagian tetap kita salurkan ke pasar lokal,” tutupnya.