Pondasi Pendidikan NWDI adalah “Bina’ul Insan”
LOTIM LOMBOKita – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PB NWDI), TGB Dr. TGH. M. Zainul Majdi, menyampaikan tausiyah pada peringatan HULTAH NWDI ke-91 di Pancor, dan peringatan haul ke 29 Almaghfurulahu Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid. di Pancor , Ahad (13/9)
Hadir dalam acara tersebut para ulama tamu undangan dari berbagai daerah, di antaranya Al-Mukarram Al-Ustadz Dr. Asy-Syaikh Ahmad Mustafa Na’imah Al-Azhari Asy-Syafi’i dari Kairo, Al-Habib Jindan bin Noval bin Salim bin Jindan, dan Al-Akhil ‘Aziz Al-Ustadz Dr. Abdul Somad Batubara. kepala BIN, Forkopimda Provinsi NTB dan Lotin.
Dalam tausiyahnya, TGB menegaskan bahwa Maulana Syaikh telah mewariskan seluruh yang terbaik untuk umat.
“Sudah dia wariskan iman takwa, sudah dia wariskan al-awrad wal-adzkar was-shalawat, semua! Bahkan sudah dia wariskan organisasi perjuangan. Dia wariskan lebih dari 1.100 madrasah di seantero Indonesia. Dia wariskan persahabatan dengan para ulama di seluruh dunia. Wa maa aqyamaha wa maa a’zhomaha, itu warisan yang luar biasa,” ujarnya.
Menurut TGB, tugas seluruh kader NWDI saat ini adalah melanjutkan warisan tersebut bersama-sama.
“Apa yang diwariskan oleh Ninda Maulana Syekh, kita wariskan bersama-sama. Sanggup Bapak, Ibu? Pokoknya… Pokok NW! NWDI!” serunya disambut takbir hadirin.
Dalam kesempatan itu juga TGB menekankan satu pesan penting dalam Hultah ke-91 ini, yaitu Asasu at-tarbiyah bina’ul insan , bahwa asas dari pendidikan adalah membangun jiwa manusia.
Hal ini merujuk pada tugas Rasulullah SAW yang termaktub dalam Al-Qur’an: “yatlu ‘alaihim ayatihi wa yuzakkihim wa yu’allimuhumul kitaba wal hikmah”.
“Yang pertama, _yatlu ‘alaihim_, mengajar membaca. Maka kepada kita semua, para guru di NWDI semuanya, ayo ajar anak-anak kita dengan sebenar-benarnya. Kepada para masyayikh, ayo kita bimbing dengan baik, satu per satu, sedikit demi sedikit,” pesannya.
Ia mencontohkan kesabaran Maulana Syaikh yang rela 3 tahun berkeliling dari desa je desa di Lombok hanya untuk mengajarkan salam yang benar. “Kalau beliau saja yang bintang kelas di Shaulatiyah sanggup sabar 3 tahun mengajarkan salam kepada muridnya, maka kita yang ilmu kita hanya setetes dari air samudera, maka harusnya kita lebih sabar,” ujarnya.
Menurutnya Tugas kedua Nabi, yaitu a yuzakkihim_, adalah membangun manusia dengan melembutkan hati. TGB menyebut mayoritas karya tulis Maulana Syaikh adalah al-ahzab, wal-awrad, wal-ad’iyah, was-shalawat karena proses paling sulit dalam pendidikan adalah tarwidun nufus_ atau melunakkan hati.
“Supaya yang ada itu adalah mahabah, supaya yang ada itu jangan ada kebencian. Mau orang bagaimana sama kita, ya sudahlah maafkanlah. Ganti saja dengan mahabah, ganti saja dengan kemaafan. Itu insya Allah akan menyelamatkan,” tuturnya.
Terakhir, wa yu’allimuhumul kitaba wal hikmah mengajarkan ilmu berdasarkan Al-Qur’an, sunnah, dan para ulama yang mu’tabar. Sehingga TGB mengajak seluruh guru dan orang tua untuk kembali kepada pokok pendidikan.
“Mari kita kembali kepada pokok yang paling pokok: bina’ul insan Kita bangun generasi yang baik mulai dari anak kita masing-masing. Ajak mereka, ajar mereka. Didik mereka untuk mengaji, untuk belajar, untuk mengenal Al-Qur’an, mengenal Allah-Nya, mengenal Rasul-Nya,” tutupnya.
Acara ditutup dengan pembacaan syafa’at dan doa pusaka bersama. Tausiyah ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar NWDI untuk terus menjaga semangat perjuangan Maulana Syaikh dalam membangun peradaban melalui pendidikan.
