Perslotim Tampil Kompetitif di Liga 4 Nasional, PSSI Lotim Fokus Benahi Persiapan dan Pembinaan
LOTIM LOMBOKita – Penampilan Perslotim di Liga 4 Nasional dinilai jadi catatan positif bagi perkembangan sepak bola Lombok Timur. Meski belum melangkah lebih jauh, Laskar Lombok Timur mampu bersaing dengan klub dari daerah dengan tradisi sepak bola lebih maju.
Ketua PSSI Lombok Timur Muhammad Yusri mengatakan, kualitas pemain Perslotim tidak kalah dari tim-tim asal Jawa, Sulawesi, maupun wilayah lain.
“Dari kedalaman tim, strategi, kerja sama, hingga skill individu, kita sudah cukup baik dan tidak jauh berbeda. Saat satu grup dengan mereka, pengalaman dan kultur sepak bola mereka justru jadi motivasi pemain untuk tampil lebih percaya diri,” ujar Yusri .
Menurut Yusri, kendala utama Perslotim di Liga 4 nasional, waktu persiapan yang mepet. Tim hanya punya sekitar tiga minggu untuk membentuk skuad setelah lolos dari Liga 4 tingkat provinsi.
Kondisi itu dipengaruhi ketatnya kompetisi internal. Beberapa klub seperti Kejora, Gazala, Ramzan Wadi, dan Perslotim bersaing di Liga 4 Piala Gubernur. Setelah Perslotim ditetapkan sebagai wakil, manajemen harus merekrut pemain dari klub lain dalam waktu singkat.
“Penyesuaian tim tentu butuh waktu. Meski persiapan tidak maksimal, alhamdulillah Perslotim tetap tampil kompetitif di tingkat nasional,” katanya.
Ia mencontohkan laga melawan tim asal Jawa Timur yang pernah berlaga di Liga 2. Perslotim memberi perlawanan sengit dan hanya kalah tipis satu gol.
“Kalau persiapan lebih panjang dan matang, peluang menang sangat terbuka. Kami optimistis ke depan Lotim bisa cetak sejarah di Liga 4,” tegasnya.
Sebagai evaluasi, PSSI Lotim akan melakukan pembenahan menyeluruh. Persiapan tim dilakukan lebih awal, seleksi pemain diperketat, dan pembinaan usia muda dijalankan berjenjang serta berkelanjutan.
“Ke depan persiapan harus lebih matang. Pembinaan pemain muda akan diperkuat agar kualitas tim terus meningkat,” jelas Yusri.
Peningkatan kualitas pelatih juga jadi perhatian. Saat ini sebagian besar pelatih di Lotim masih berlisensi dasar. PSSI mendorong peningkatan lisensi melalui pelatihan dan program pengembangan kepelatihan.
“Kami ingin pelatih lebih profesional. Peningkatan lisensi jadi salah satu prioritas,” ujarnya.
Yusri juga mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama. Upaya menjalin kerja sama dengan swasta melalui proposal belum memberi hasil maksimal.
“Kami masih hadapi kendala anggaran. Beberapa proposal sudah diajukan ke perusahaan di Lotim, namun dukungan yang diharapkan belum terpenuhi,” katanya.
Meski begitu, PSSI Lotim tetap membuka kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Sepak bola milik masyarakat. Potensi kita besar, tapi butuh dukungan bersama agar talenta muda Lombok Timur bisa berkembang dan mengharumkan nama daerah,” pungkasnya.
