Dispar Mataram Pastikan Bale Kebudayaan Tidak Dapat Alokasi Anggaran
LOMBOKita – Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H Abdul Latif Nadjib menyebutkan, program pembangunan “Bale Kebudayaan” tahap ketiga tidak mendapatkan alokasi anggaran dari pemerintah.
“Tahun ini kami belum bisa melanjutkan proses pembangunan ‘Bale Kebudayaan’ atau rumah budaya, karena belum ada dukungan dana dari pemerintah mengingat adanya rasionalisasi anggaran secara nasional,” katanya kepada sejumlah wartawan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat.
Untuk melanjutkan program pembangunan tahap ketiga, pihaknya telah mengusulkan anggaran sebesar Rp3 miliar kepada Kementerian Pariwisata, namun sampai saat ini belum ada realisasi.
Sementara dukungan dari APBD Kota Mataram dalam APBD murni 2018 juga tidak ada. “Semoga pada APBD perubahan ada dana tambahan agar kami bisa melanjutkan program pembangunan Bale Kebudayaan,” katanya.
Menurutnya, program pembangunan Bale Kebudayaan ini sudah dilaksanakan dua tahun anggaran yakni mulai 2016 dan 2017, dengan masing-masing anggaran Rp1,9 miliar untuk tahap pertama dan Rp1,4 miliar tahap kedua.
“Progres pembangunan Bale Budaya saat ini sudah pemasangan atap empat penjuru, lantai dasar dan tiang penyangga. Rencananya kalau ada anggaran kami mau pasang atap dan dekorasi lainnya,” katanya.
Bale Kebudayaan yang dibangun di areal Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan ini, merupakan sebuah “becingah” atau aula serba guna khas Suku Sasak dengan ukuran 48 x 48 meter.
Latif mengatakan, anggaran yang diajukan sebesar Rp3 miliar itu, sebenarnya untuk lanjutan pembangunan struktur Bale Kebudayaan dan menjadi usulan terakhir untuk pembangunan struktur dasar.
Selanjutnya, pada tahun 2019 proses pembangunan direncanakan untuk pemasangan ornamen yang biayanya tidak kalah besar dari pemasangan struktur dasar rumah kebudayaan tersebut.
Pemasangan ornamen ini, katanya, menjadi tahapan inti dan paling rumit bahkan paling berat yang akan dikerjakan, sebab Bale Kebudayaan tersebut akan dihiasi secara teliti dengan kearifan budaya lokal.
“Ornamen “becingah” yang merupakan pengerjakan inti Bale Kebudayaan dengan bermuatan khas lokal sarat dengan berbagai ukiran kayu dan cukli yang merupakan produk unggulan kota ini,” katanya.
Dikatakan, untuk merampungkan pembangunan Bale Kebudayaan hingga berbagai bangunan pelengkap dan pendukungnya dibutuhkan anggaran sekitar Rp10 miliar.
“Khusus untuk pembangunan inti Bale Kebudayaan anggaran kita usulkan ke pemerintah, sementara untuk fasilitas pelengkap diajukan melalui APBD Kota Mataram,” katanya.
Fasilitas pendukung yang akan dibangun adalah gubuk pada bagian utara dan selatan becingah yang disebut “gubuk lauk” (gubuk selatan) dan “gubuk daye” (gubuk utara).
Dengan demikian, kata Latif, Bale Kebudayaan ini akan menjadi seperti miniatur perkampungan khas Lombok, yang juga menjadi ajang edukasi generasi muda.
Bale Kebudayaan juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan baik yang dilaksanakan masyarakat maupun pemerintah bahkan untuk kegiatan pelantikan pejabat sekalipun.
Di samping itu, Bale Kebudayaan tidak hanya sebagai tempat pertemuan budaya, melainkan juga menjadi tempat edukasi dan olahraga.
“Bale Kebudayaan nantinya akan dikelola sebuah lembaga dan setiap harinya bisa digunakan untuk berbagai kegiatan pelatihan seni dan budaya,” ujarnya.
