Bupati dan Wakil Bupati Lotim, Hadiri Gawe Adat Ngayu ayu Kawedan Sembalun
LOTIM LOMBOKita – Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy,bersama Wakil Bupati H Rumaksi Sj, bersama para sultan , Datuk dari Malaysia, Sesepuh Kesultanan se-Nusantara, Budayawan dan Akademisi pemerhati budaya.
menghadiri Gawe Adat Ngayu ayu Kawedan Sembalun, yang di gelar sekali dalam tiga tahun oleh masyarakat Sembalun, Rabu (13/7).
Sebelum gawe adat ngayu ayu di gelar, Bupati melakukan peletakan Batu Pertama Masjid dan Kampus Sekolah Kebudayaan Urup di Sembalun Bumbung.
Dalam sambutannya Bupati Lotim Sukiman Azmy menyatakan,
Keberadaan sekolah kebudayaan ini, paling tidak mengigatkan kepada Lima elemen Tuhan, manusia, alam, malaikat dan rasulullah, kelima ada syetan yang akan mengganggu manusia.
“Ke Lima elemen ini akan menyatu bersama kita. Para sultan, para datuk berkenan ke sini ini sesuatu yang luar biasa, di tempat kaki gunung rinjani ini,” ucapnya
Upacara Ngayu_Ayu dilakukan sebagai bentuk peringatan atas seluruh rangkaian sejarah, sekaligus sebagai penghormatan atas peran leluhur yang begitu besar, dalam kehidupan kita saai ini.
Istilah Ngayu_Ayu merupakan akronim, dimana NG = Ngamplang (artinya mengumpulkan), A = Aik (artinya air), Y = Yalah, U = Upacara, A = Adat, Y=Yang dan U = Utama. Jadi secara sederhana Ngayu_Ayu dapat diartikan sebagai suatu upacara mengumpulkan air dari 13 mata air, dengan tujuan menjaga marwah leluhur dan memelihara keutuhan Gumi Sembalun.
Sementara dalam kaca mata Islam Ngayu_Ayu diartikan sebagai sifat-sifat Allah SWT, dimana Hayyu artinya Hidup dan Qoyyum berarti kuat dan berdiri sendiri, sehingga Ngayu_Ayu dapat diartikan sebagai suatu upacara untuk menghidupkan dan menguatkan nilai-nilai spiritual adat Gumi Sembalun.
Adapun rangkaian upaacara Ngayu_Ayu, dimulai pada hari Rabu Pukul 16.00 wita, yaitu prosesi pengambilan air pada 13 mata air oleh pemangku adat, untuk dikumpulkan di Berugak Desa Sembalun Bumbung, yang di rangkai pada malam hari, dilakukan pembacaan lontar oleh para Pemaos (Para Pujangga Sasak) di Berugak Desa Sembalun Bumbung, selanjutnya keesokan harinya di lanjutkan dengan acara ritual membawa SESAMPANG oleh Pemangku Adat
Hal ini dimaksudkan untuk penghormatan terhadap
alam, agar senantiasa terjalin kesinambungan dengan manusia, untuk menjaga keseimbangan yang tetap lestari.termasuk penyembelihan kerbau oleh kyai adat sesuai trah atau keturunan, dan Kepala kerbaupun ditanam oleh pemangku adat, sebagai PANTEK (atau pasak) Gumi Paer Sembalun pada khususnya dan Lombok Timur pada umumnya.
selanjutnya giat ngayu ayu dilakukan membawa air suci dari Berugak Desa Sembalun,
menuju Lapangan Upacara Adat, yang diikuti oleh Pemuka Adat dan
Pemuka Masyarakat yang diiringi Tari Tandang Mendet dan Kesenian
lainnya, dilanjutkan kegiatan Mapakin atau profesi lempar ketupat,
prosesi lempar ketupat inipun memiliki makna tersendiri, yaitu lempar pertama dimulai dengan penyebutan tanggal Lime (5) yaitu pembangunan kesempurnaan akan sholat lima waktu, Lemparan KEDUA dengan mengucapkan ‘Tanggal LIME OLAS’ (15) yaitu sebagai perlambang kesempurnaan bulan purnama. dan Lemparan KETIGA dengan mengucapkan ‘Tanggal SELAE’ (25) yaitu sebagai perlambang kesempurnaan asal usul ajaran Para Nabi yaitu ajaran keTUHANan yang dibawa oleh 25 Para Nabi dan Rasul.
dan di lanjutkan dengan upacara adat PERANG PEJER (Perang Penolak Bala’) dan
penumpahan air dari semua mata air di KALI PUSUK, sebagai simbol
penyatuan Gumi, Air, Hutan, dan Alam lingkungan.
