Bupati dan Wabup Lombok Timur Salat Id di Masjid Agung Al-Mujahidin Selong, Khatib Tekankan Makna Ketakwaan

Keterangan foto: Bupati Lombok Timur H Haerul Warisin bersama Wakil Bupati HM Edwin Hadiwijaya usai sholat Idul Fitri bersalam salaman dan bermaaf maafan dengan jamaah

LOTIM LOMBOKita – Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah bersama ribuan masyarakat di Masjid Agung Al-Mujahidin Selong, sabtu (21/3). Pelaksaan Salat Id berlangsung khidmat, dan diikuti ribuan jamaah.

Pelaksanaan sholat id di pimpin imam besar Masjid dan selaku khotib yaiitu DR M Rizki Hamzar, dalam khutbahnya, ia menekankan bahwa hasil utama dari ibadah puasa Ramadan adalah terbentuknya ketakwaan sebagai bekal terbaik dalam kehidupan dunia sebelum kembali kepada Allah SWT.

‎Rizki mengajak jamaah untuk melakukan refleksi diri usai menjalani Ramadan, khususnya dengan menjawab dua pertanyaan penting, yakni siapa yang telah “dikalahkan” selama Ramadan dan apakah kemenangan tersebut benar-benar diraih atas hawa nafsu.

‎“Perjuangan melawan hawa nafsu tidak hanya berlangsung di bulan Ramadan, tetapi harus terus dilanjutkan sepanjang kehidupan,” ujarnya.

‎Khatib juga mengingatkan, pentingnya menjaga kualitas ibadah pasca-Ramadan dengan mengontrol diri, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

‎Fenomena penggunaan media sosial yang kerap tidak terkendali sehingga berpotensi melukai perasaan orang lain.

‎Selain itu, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri dari hal-hal yang dilarang maupun yang berlebihan dalam hal yang diperbolehkan.

‎Dalam khutbahnya, Dr. Rizki turut menyinggung pentingnya kepedulian sosial yang tercermin melalui zakat fitrah dan sedekah.

‎Menurutnya, ibadah tersebut menjadi sarana untuk memastikan kebahagiaan Idulfitri dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

‎“Idulfitri adalah kemenangan bersama, bukan hanya milik mereka yang mampu, tetapi juga dirasakan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan,” katanya.

‎Di akhir khutbah, ia mengajak umat Islam untuk mempertahankan nilai-nilai kesabaran dan rasa syukur yang telah dilatih selama Ramadan sebagai karakter dalam kehidupan sehari-hari.