Mataram Rencanakan Bangun ‘Green Belt’ Menuju Bandara Internasional Lombok

Sekda Kota Matarm Effendi Eko Saswito/KickNews

LOMBOKita – Kota Mataram merencanakan pembangunan “green belt” atau sabuk hijau di “by pass” menuju Bandara Internasional Lombok Jalan Lingkar Selatan.

“Rencana itu saat ini masih dalam proses administrasi, terkait dengan pembebasan lahan dan lainnya,” kata Sekretaris Daerah Kota Mataram H Effendi Eko Saswito di Mataram, Selasa.

Ia mengatakan, “green belt” yang direncanakan itu seperti halnya di kawasan Jalan Udayana, dengan melakukan pembebasan lahan dan membangun sejumlah fasilitas umum.

Fasilitas umum yang dimaksudkan antara lain, taman bermain dan arena olahraga, sehingga taman tersebut bisa menjadi ajang rekreasi, interaksi sekaligus edukasi bagi masyarakat.

Keberadaan “green belt” tersebut juga dapat menambah ruang terbuka hijau di Kota Mataram, serta menjadi paru-paru Kota Mataram.

“Kami juga akan membangun fasilitas lapak pedagang kaki lima (PKL), untuk mengakomodasi pedagang yang saat ini sudah mulai menjamur di kawasan tersebut,” katanya.

Keberadaan PKL di sepanjang jalan menuju “baypass” Bandara Internasional Lombok (BIL), dinilai mengganggu arus lalu lintas karena mereka menggunakan badan jalan.

Dikauinya, menjamurnya PKL di kawasan tersebut juga dipicu karena kawasan itu saat ini menjadi salah satu kawasan strategis, dan pusat keramian pada malam hari.

“Apalagi setelah monumen kota di bundaran Jalan Lingkar Selatan rampung dibangun, kami yakin jumlah PKL akan terus bertambah,” katanya.

Bahkan, sambungnya, menurut rencana, ke depan disisi utara monumen yang berada diantara jalur Lingkar Selatan Kota Mataram dan “bypass” menuju BIL tersebut akan dibangun pula Kantor Wali Kota Mataram.

Mengingat kantor lama yang berada di Jalan Pejanggik Kota Mataram saat ini dianggap sudah kurang representatif lagi karena keterbatasan lahan.

Sedangkan dalam desain monumen yang akan dibangun Pemerintah Kota Mataram, nantinya akan dilengkapi dengan plaza untuk masuk melalui “underpass” setinggi 50 meter.

Monumen itu akan dijadikan satu destinasi wisata baru karena didesain agar dapat diakses oleh masyarakat.

“Karenanya, berbagai fasilitas penunjang harus kita siapkan dari sekarang, sebab dalam beberapa tahun ke depan kawasan tersebut akan menjadi pusat keramian,” ujarnya.