Polres Lotim Mediasi Soal Kasus As Sunnah Di Kotaraja

LOMBOKita – Pihak Polres Lombok Timur melakukan mediasi terhadap kasus jamaah As Sunnah dengan warga Dusun Marang, Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur di rupatama Polres Lotim, Kamis (8/8).Karena Rabu malam ratusan warga Marang, Desa Kotaraja mengamuk dengan melakukan pemukulan jamaah as sunnah dan pengrusakan musolla as sunnah, karena tidak terima dengan pernyataan yang dikatakan jamaah as sunnah.

Sementara kegiata mediasi tersebut, dipimpin Waka Polres Lotim, Kompol Eko Bayu Panduwinaoto, SIK, Kasat Reskrim, AKP I Made Yogi Purusa Utama, SE, SIK, Kasat Intel, Iptu Wahyu,Kepala Bakesbangpoldagri, Salmun Rahman, Kejaksaan, Pol.PP, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKPUB), Camat Sikur,Kapolsek, Danramil,Kades Kotaraja dan kedua belah pihak.

Waka Polres Lotim mengatakan kegiatan mediasi ini untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi antara As sunnah dengan warga setempat. Begitu juga pihaknya tidak menginginkan adanya kekerasan lagi, sehingga setiap persoalan harus diselesaikan dengan cara duduk bersama.

” Harapan kami agar permasalahan itu bisa diselesaikan dengan baik, sehingga kami mengudang untuk melakukan mediasi,” ujarnya.

Begitu juga, lanjut Mantan Kasat Lantas Polres Lotim menambahkan permasalahan yang terjadi di Kotaraja tersebut yang sedang dalam proses, hendaknya perlu kami melakukan koordinasi dengan tokoh agama, masyarakat, MUI maupun FKUB. Dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang terjadi semalam.

” Mari kita sama-sama menjaga kondusitifas yang ada, dengan tidak melakukan tindakan yang akan menganggu kamtinmas,” tegasnya.

Sementara pengurus MUI Lotim, H. Mahsun Faisal meminta agar permasalahan di Kotaraja tersebut, hendaknya saling sama-sama menjaga kondusitifitas dengan semuanya harus terlibat didalamnya, karena situasi saat ini masih hangat.

” Marilah kita saling menghargai dengan adanya perbedaan jangan sampai kita maksakan kehendak kita kepada orang yang tentunya akan menjadi masalah nantinya,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Ketua FKUB Lotim, Ustaz H. Ali Fikri meminta untuk sama-sama menahan diri dengan tidak saling mengedepankan emosi yang tentunya akan tidak bisa menyelesaikan masalah yang ada.

” Mari kita saling mengharga dan menahan diri, ” pinta Ali Fikri.

Kemudian setelah semuanya masing-masing memberikan pendapat dan pandangan mengenai masalah yang terjadi di Kotaraja tersebut, dari pihak Wakapolres Lotim meminta agar semuanya saling menghargai dan menahan diri, dengan tidak melakukan tindakan-tindakan lagi seperti tadi malam.

” Mari kita sama-sama saling menjaga satu sama lainnya, meski adanya perbedaan didalamnya,” pinta Kompol Bayu.

6 Komentar

  1. Anonim

    Sebelum kita mengkritik pekerjaan orng mari telaah dulu apa yg akan di sampaikan karna. Segala perbuatan atau ucapan itu akan di pertanggung jawabkan di hari pembalasan…

  2. Anonim
    Anonim

    Semua mengikuti sunnah nabi dan kami yakin kita tau mana yg benar dan yg salah walaupun beda pendapat atau pemahaman namun jangan terlalu menyalahkan perbuatan orng yg memang mereka memiliki pandangan dan hukum yg berbeda.

  3. Anonim

    Tuselak bruk jeri

  4. Anonim

    Siapa yang menolak dalil shahih dari perkataan rasulullah, maka di pertayakan agama apa yang dianut?

    Allah Ta’ala berfirman:
    Artinya: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’: 115)

    Membenci bahkan cenderung menghina ajaran Nabi shallallahu ‘alaih wasallam dan melecehkan seorang yang berpegang teguh dengan ajaran dan sunnahnya, termasuk di dalamnya meremehkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dibacakan kepadanya.

    “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dr Golonganku”

  5. Anonim
    Anonim

    Didalam berdakwah juga harusnya memiliki etika, apalagi jika mmbawa faham baru, setau saya Kotaraja itu dihuni oleh penduduk muslim heterogen dari brbagai kalangan berlatarbelakang berbagai organisasi dan ormas yg berbeda namun saling hidup rukun berdampingan saling mghormati perbedaan2 yg bersifat furu’iyah, mayoritas pnddk disana menganut faham ahlussunnah waljamaah aqidah asy’ariyah almaturidiah, aqidah ini sangat luwes dan tidak gampang mengkafirkan, belakangan sy mndgr kabar klo wilayah itu sudah dimasuki org2 yg menamakn dirinya klpk assunnah salafi/wahabi, dan sring mmbuat statemn menganggap salah/keliru org2 selain golongan mereka, tdk mnghrgai perbedaan yg sudh lama hidup damai di wilayah kotaraja, mungkin itu yg mmicu dn mmbuat masy meradang dan ahirnya berujung pengrusakan. Wallahu a’lam.

  6. Anonim

    Masih ringan rintangan utk terus mendakwahkan sunah rasul…zaman nabi nyawa jadi taruhan….dakwahkan terus

Komentar ditutup.