Puluhan Anak Di Lotim Mengalami Kekerasan Seksual dan Fisik

LOMBOKita – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lombok Timur mencatat sebanyak 27 Orang anak mengalami kekerasan seksual dan fisik dari data sampai tanggal 29 Juli 2019.

Kasus kasus inilah yang ditangani oleh LPA, dengan melakukan pendampingan atau advorkasi terhadap anak-anak yang mengalami kekerasan tersebut.

” Dari jumlah data tersebut sebagian besar anak mengalami kekerasan seksual,sedangkan sisanya kekerasan fisk,,sehingga ini tentunya menjadi perhatian kita bersama,” tegas Ketua LPA Lotim, Judan Putrabaya kepada wartawan di Selong,Selasa (30/7).

Namun begitu, lanjutnya, data yang ada saat ini hanya yang melapor kepada aparat kepolisian maupun kami.Meski demikian namun tidak menutup kemungkinan ada diantara korban yang tidak berani melaporkan terhadap kejadian yang menimpanya, karena alasan takut maupun lainnya.

” Silahkan melapor saja jangan ada rasa takut, karena kami akan memberikan perlindungan dan advorkasi kepada korban,” ujarnya.

Lebih lanjut Judan menambahkan kalau dilihat dari angka kasus kekerasan terhadap anak saat ini tentunya mengalami peningkatan,apalagi dengan jumlah penduduk terpadat di kabupaten/kota di NTB. Sehingga inilah yang menjadi penyebab volume tertingi kasus terjadi.

Sementara pada tahun 2018 lalu Lotim menempati urutan kedua dua di Provinsi jumlah kasus kekerasan terhadap anak setelah kabupaten Dompu. Sehingga ini menjadi masalah yang tentunya harus diselesaikan.
  
” Yang jelas kami tidak mempungkiri kalau tahun ini kasus kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Ketua LPA Lotim mengungkapkan kalau perhatian pemerintah daerah terhadap kegiatan perlindungan anak masih minim, dengan dibuktikan anggaran yang diberikan hanya Rp 300 juta tahun 2019. Dengan digunakan untuk menangani semua kegiatan LPA yang ada di 20 kecamatan di Lotim.

” Anggaran masih menjadi persoalan, sehingga tentunya meminta kepada Bupati Lotim untuk menambahkan anggaran bagi LPA kedepannya, agar pembinaan dan kerja yang dilakukan bisa dengan optimal dan maksimal,” tandasnya.