BPBD Lombok Timur Salurkan 30 Tangki Air Bersih, Jerowaru Paling Terdampak
LOTIM LOMBOKita – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur terus mengintensifkan penyaluran bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan. Hingga pertengahan September, puluhan tangki telah didistribusikan.
Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, L. Mulyadi, mengatakan intensitas dropping air meningkat dalam beberapa minggu terakhir sesuai laporan yang masuk dari kecamatan.
“Sampai dengan saat ini sudah kurang lebih 30-an tangki yang kita drop dari BPBD, termasuk juga dari MMI dan dari Balai Wilayah Sungai BWS NTB. Kita bergerak 2 sampai 3 kali dalam seminggu sesuai laporan dari selatan, misalkan dari Pak Camat, Pak Kades,” kata Mulyadi.
Untuk saat ini, sebagian besar permintaan datang dari Kecamatan Jerowaru. Pada Jumat 14 September lalu, BPBD melakukan dropping air ke Dusun Telone.
Mulyadi menyebut sasaran utama bantuan adalah wilayah yang belum tersentuh jaringan SPAM.
“Sekarang ini ada dua desa yang menjadi atensi BPBD untuk Kecamatan Jerowaru, yaitu Desa Sekaroh dan Desa Seriwe. Itu yang paling intens,” jelasnya.
Selain Jerowaru, permintaan air bersih juga datang dari Desa Keselet di Kecamatan Montong Gading dan Desa Jeringo di Kecamatan Pringgabaya. Sementara untuk Desa Selaparang, BPBD masih menunggu permintaan resmi dari pemerintah desa atau kecamatan, mengingat wilayah tersebut juga terdampak kekeringan pada tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, ada Enam desa yang menjadi sasaran bantuan air bersih saat ini, yakni Desa Sekaroh, Desa Seriwe, Desa Keselet, Desa Jeringo, Desa Selaparang.dan desa Tetenatu Selatan
“Selama ada permintaan kita selalu layani,” tegasnya.
Mulyadi menambahkan, status kebencanaan di Lombok Timur hingga saat ini masih dalam kategori waspada, belum masuk siaga apalagi darurat bencana.
“Lotim hingga saat ini belum masuk darurat bencana, masih kategori waspada. Belum ada kabupaten yang berstatus darurat karena intensitas dinilai masih normal,” ujarnya.
Kenaikan status ke level siaga biasanya dilakukan jika kekeringan meluas hingga delapan kecamatan yang telah dipetakan rawan, seperti yang terjadi pada tahun 2023, 2024, dan 2025. Puncak kekeringan biasanya terjadi pada Oktober.
“Ya akhir bulan atau awal bulan Oktober biasanya kita naikkan ke level kesiagaan, kalau sudah delapan kecamatan yang kita petakan rawan kekeringan bersurat atau sudah tidak ada air bersih,” katanya.
Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau tahun ini intensitasnya moderat, tidak terlalu tinggi, namun durasinya lebih panjang hingga Desember.
“Kalau dulu November berakhir, kalau sekarang prediksinya sampai Desember. Tapi tidak terlalu tinggi,” pungkasnya.
