JEJAK YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR PULANG
Oleh : ALWI HANAN
Namaku Witan, Seorang pelajar yang sedang mencari jati dirinya.
Kalau ada satu hal yang diajarkan hidup kepadaku dalam beberapa tahun terakhir,
mungkin itu adalah kenyataan bahwa tidak semua orang yang datang ke hidup kita ditakdirkan untuk tinggal.
Ada yang datang membawa tawa. Ada yang datang membawa harapan. Ada pula yang datang menjadi rumah ketika dunia terasa terlalu ramai dan melelahkan.
Namun tidak semuanya menetap. Sebagian, bahkan hampir setiap orang memilih untuk pergi.
Dan yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita anggap rumah ternyata memilih pulang ke tempat lain.
Semuanya bermula pada malam itu,
malam tanggal 22 Oktober 2023, Malam Hari Santri.
Lapangan pondok dipenuhi cahaya.
Suara shalawat mengalun dari pengeras suara.
Para santri pun ikut untuk melantunkan shalawat, mengambil foto, dan menikmati malam yang terasa lebih meriah dari biasanya.
Aku tidak datang dengan harapan apa pun malam itu.
Aku hanya ingin menikmati acara, bercanda dengan teman-teman, lalu kembali ke kos, tempat dimana aku biasanya menuang ide dan mimpiku.
Namun hidup sering mengubah arah seseorang melalui peristiwa yang terlihat biasa.
Ketika shalawatan malam itu seorang adik tingkatku yang sekaligus jadi adik adikan ku bernama Winarti memperkenalkanku kepada temannya.
Nama teman nya itu Azizah seorang pelajar yang juga cantik dan terlihat begitu indah. Perkenalan kami sederhana.
Tidak ada momen istimewa.
Tidak ada rasa yang langsung muncul.
Hanya obrolan singkat yang berlanjut menjadi pesan-pesan kecil setelah acara selesai.
Lalu sesampai di kos malam itu,
kami menelepon mencoba untuk saling berkomunikasi.
Awalnya canggung.
Aku bahkan beberapa kali kehabisan topik.
Tapi anehnya tidak ada keinginan untuk menutup telepon.
Percakapan yang seharusnya hanya beberapa menit berubah menjadi berjam-jam.
Malam berikutnya terjadi lagi.
Lalu malam berikutnya lagi.
Tanpa sadar, aku mulai terbiasa mencari namanya setiap bangun tidur.
Mulai terbiasa menunggu balasan pesannya.
Mulai terbiasa mendengar suaranya sebelum tidur.
Dan seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta,
aku tidak sadar kapan tepatnya semuanya dimulai.
Aku hanya sadar bahwa suatu hari Azizah sudah menjadi bagian dari hari-hariku.
Hubungan kami berjalan baik.
Sangat baik bahkan.
Kami sering bertemu.
Menonton bioskop bersama.
Makan bersama.
Berjalan tanpa tujuan yang jelas.
Membahas masa depan yang bahkan aku tidak tau alasan nya
Membahas mimpi-mimpi yang saat itu terasa begitu dekat.
Dan bahkan Keluarga kami saling mengenal satu sama lain
Teman-teman kami pun mengenal hubungan kami.
Aku benar-benar percaya hubungan ini akan berjalan lama.
Aku terlalu percaya.
Sampai akhirnya Agustus 2024 datang.
Aku mengikuti program kampus di tempat yang cukup jauh dari tempat kuliah ku.
Kesibukan, jaringan data dan kewajiban lain membuat komunikasi kami tidak seintens biasanya.
Aku pikir semuanya baik-baik saja.
Aku pikir cinta yang sudah berjalan selama itu tidak akan berubah hanya karena jarak beberapa minggu.
Ternyata aku salah.
Ketika aku kembali, ada sesuatu yang berbeda.
Pesan-pesannya lebih pendek.
Telepon kami lebih singkat.
Tawanya tidak lagi sama.
Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku hanya terlalu banyak berpikir.
Tapi hati sering kali lebih jujur daripada logika.
Sampai suatu hari aku mengetahui kenyataan yang selama ini berusaha kuhindari.
Ada orang lain, orang yang tidak pernah ada di bayangan ku akan mengambil semua nya,
ya teman seasal nya,
ternyata kesibyukan ku mengurus kegiatan ku di jadikan celah dan kesempatan bagi mereka untuk saling menghubungi
hingga akhir nya mereka pun saling jatuh cinta.
Siapa yang sangka dia yang sudah ku anggap rumah,
dia yang sudah ku jadikan tempat berkeluh kesah ternyata bisa secepat itu berpaling arah,
Aku masih ingat malam itu.
Tanganku dingin.
Dadaku sesak,
Dan akhirnya Aku kehilangan dia.
Dalam situasi seperti itu, Aku tidak diam begitu saja,
aku coba untuk mengusahakan nya,
aku datang menemui dia datang menemuinya.
Aku mencoba bertanya.
Mencoba memperbaiki semuanya.
Mencoba mempertahankan hubungan yang selama ini kujaga.
Berharap apa yang sudah aku usahakan, dilihat nya sebagai sebuah perjuangan dan tanda keseriusan ku terhadap hubungan ni
Namun aku terlambat,
dengan tanpa bersalah dia memilih laki laki itu,
tidak menghiraukan perjuangan ku dan
bahkan mencampakkan harga diriku
Dan dejak saat itu untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku merasakan bagaimana rasanya memperjuangkan seseorang yang sudah tidak lagi ingin diperjuangkan.
Setelah itu semuanya menjadi kabur.
Aku sulit tidur.
Sulit makan.
Sulit fokus.
Aku mencoba terlihat baik-baik saja di depan orang lain, tapi setiap kali sendirian, pikiranku kembali ke tempat yang sama.
Kenapa?
Apa yang kurang dariku?
Apa yang salah?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar tanpa jawaban.
Sampai akhirnya tubuhku menyerah.
Aku jatuh sakit.
Diinfus.
Berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar yang terasa begitu kosong.
Di masa-masa itulah seseorang mulai sering hadir.
Si Winarti.
Perempuan yang dulu memperkenalkanku kepada Azizah.
Perempuan yang sebelumnya hanya kuanggap adik tingkat biasa.
Ia tidak datang membawa solusi.
Tidak datang membawa janji.
Ia hanya hadir.
Mendengarkan.
Kadang berjam-jam.
Kadang hanya menemani diam.
Ada malam ketika aku menghubunginya pukul satu dini hari karena pikiranku terlalu penuh.
Dan ia tetap menjawab.
Ada hari ketika aku merasa tidak kuat melewati semuanya.
Dan ia tetap tinggal.
Perlahan aku mulai terbiasa bercerita kepadanya.
Tentang ketakutanku.
Tentang kekecewaanku.
Tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah kuceritakan kepada orang lain.
Dan tanpa kusadari, kehadirannya mulai menjadi sesuatu yang penting.
Aku mulai mencari namanya ketika bangun tidur.
Aku mulai menunggu pesannya.
Aku mulai merasa hari terasa berbeda ketika ia tidak muncul.
Perasaan itu membuatku takut.
Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan.
Aku tidak ingin jatuh lagi.
Namun hati manusia tidak selalu mengikuti apa yang diinginkan pemiliknya.
Aku jatuh cinta.
Kali ini kepada Winarti
orang yang dulu hanya seorang adik adikan ku yang bahkan mengenal kan ku pada si penghianat itu .
Saat aku mengungkapkannya, ia menolak.
Dengan halus.
Dengan hati-hati.
Ia bilang tidak ingin hubungan kami berubah.
Aku menghargai keputusannya.
Tapi perasaanku tidak serta-merta hilang.
Berbulan-bulan kami tetap berteman.
Tetap saling bercerita.
Tetap dekat.
Sampai akhirnya suatu waktu, sesuatu berubah.
Mungkin karena waktu.
Mungkin karena kedekatan.
Mungkin karena ia akhirnya melihat ketulusanku.
Winarti menerima perasaanku.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa hidup memberiku kesempatan kedua.
Hubungan kami berbeda. Kita sama sama saling menguaahakan
Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata aku,
Setiap kali aku butuh bantuan dia dengan senang hati mau membantu
Bahkan Ketika iya tidak bisa melakukan nya dia akan belajar tentang hal itu agar bisa membantu meringankan kerjaan ku
Aku tidak bisa menjelaskan sedetail itu
Dia baik
Dia perhatian
Dia cantik
Dia solehah
Dan yang terpenting dia selalu ada bahkan Ketika aku merasa aku sedang butuh jarak
Hubungan lami jadi Lebih dewasa.
Lebih tenang.
Lebih hangat.
Ia mengingat hal-hal kecil tentangku.
Ia tahu makanan favoritku.
Ia tahu kapan aku sedang tidak baik-baik saja hanya dari cara mengetik pesanku.
Ia tahu kapan aku sedang berpura-pura kuat.
Dan yang paling penting, ia selalu membuatku merasa dipilih.
Selama hampir satu setengah tahun, aku benar-benar percaya bahwa aku telah menemukan rumah.
Lalu hal yang tidak pernah terbayang di benak ku, hal yang sama sekali tidak ada dalam rencana ku,
Ya Seseorang dari masa lalu Winarti kembali.
Seorang laki-laki yang pernah menjadi bagian penting hidupnya.
Seorang tentara.
Awalnya aku tidak khawatir.
Aku percaya kepada Winarti.
Aku percaya kepada hubungan kami.
Namun perlahan perubahan-perubahan kecil mulai muncul.
Balasan pesan menjadi lebih lambat.
Telepon menjadi lebih singkat.
Percakapan kami tidak lagi sepanjang dulu.
Ada sesuatu yang berubah.
Dan aku bisa merasakannya.
Aku mencoba mengabaikannya.
Meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi setiap hari perasaan itu semakin kuat.
Sampai akhirnya aku melihat sendiri bagaimana mereka kembali dekat.
Saat itu aku tidak marah.
Aku hanya merasa takut.
Karena perasaan itu terasa sangat familiar.
Terlalu familiar.
Persis seperti yang pernah kurasakan saat kehilangan Azizah.
Aku mencoba bertahan.
Mencoba memahami.
Mencoba percaya.
Tapi semakin keras aku bertahan, semakin jelas bahwa aku sedang mempertahankan sesuatu yang perlahan melepaskan genggamannya dariku.
Dan hari yang paling kutakuti akhirnya datang.
Winarti memilih.
Bukan aku
Ia memilih kembali kepada masa lalunya.
Saat mendengar keputusan itu, aku tidak menangis.
Setidaknya tidak di depannya.
Aku hanya diam.
Karena terkadang rasa sakit terbesar tidak membuat seseorang berteriak.
Ia justru membuat seseorang kehilangan kata-kata.
Setelah itu aku pulang.
Malam itu aku duduk sendirian.
Membaca kembali percakapan-percakapan lama kami.
Foto-foto lama.
Suara-suara lama.
Kenangan-kenangan yang dulu membuatku tersenyum kini terasa seperti pisau yang diputar perlahan.
Aku tidak marah kepada Winarti.
Aku juga tidak membencinya.
Yang kurasakan hanyalah kehilangan.
Kehilangan seseorang yang pernah menjadi tempat pulang.
Seseorang yang pernah mengajariku cara bangkit.
Seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa cinta bisa datang untuk kedua kalinya.
Sampai hari ini aku masih merindukannya.
Mungkin itu kenyataan yang paling sulit kuakui
Aku masih berharap.
Masih berdoa
Masih membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak akan pernah terjadi.
Tapi hidup terus berjalan meskipun hati belum selesai.
Dan sekarang aku mulai memahami sesuatu.
Bahwa tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk bersama kita.
Sebagian hadir hanya untuk mengajarkan pelajaran.
Sebagian hadir hanya untuk meninggalkan jejak.
Dan sebagian lagi menjadi rumah yang tidak pernah benar-benar bisa kita tinggalkan, meskipun kita sudah tidak lagi tinggal di dalamnya.
Karena pada akhirnya, ada jejak-jejak tertentu yang tidak pernah benar-benar pulang.
Ia hanya hidup diam-diam di dalam hati seseorang.
Menjadi kenangan.
Menjadi doa.
Menjadi bagian dari diri yang akan terus ada, bahkan ketika semua orang lain sudah pergi.
