Petani Tembakau di Lombok Timur Terancam Gagal Panen, Imbas Cuaca Tak Stabil
LOTIM LOMBOKita – Sejumlah petani tembakau di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghadapi ancaman gagal panen akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Kerugian yang dialami para petani ditaksir mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Seorang petani Lalu Nurdin (73) menuturkan bahwa tanaman tembakau miliknya mendadak layu setelah diguyur hujan selama beberapa hari terakhir. Menurutnya, kondisi ini sudah membuatnya tidak bisa memanen hasil sawahnya.
“Dalam beberapa hari ini curah hujannya cukup tinggi dan sering turun, cuacanya tidak bisa ditebak sehingga tembakau saya layu secara tiba-tiba. Begini kondisinya, sudah tidak bisa dipanen karena dipastikan akan mati,” ujarnya pada Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa tanaman tembakau tidak cocok ditanam di kondisi yang terlalu basah, apalagi saat musim hujan. Kelebihan air dapat menyebabkan batang hingga akar tembakau menjadi busuk.
“Ini sudah kering karena akarnya membusuk, jadi tidak mungkin hidup lagi,” kata Lalu Nurdin sambil memperlihatkan tanaman tembakaunya yang mati.
Dari kejadian tersebut, ia mengaku rugi hingga puluhan juta rupiah. Kerugian itu mencakup biaya pembelian bibit, pupuk, serta upah tenaga kerja tani.
“Saya menggarap lahan seluas 35 are. Biayanya lumayan besar, karena harus membayar buruh, beli pupuk, dan obat-obatan. Perkiraan saya, kerugian sekitar Rp 10 juta lebih,” tutur Lalu Nurdin.
Lalu Nurdin bersama petani lainnya memilih menanam tembakau karena mereka mengira musim kemarau sudah tiba, sesuai prakiraan BMKG. Biasanya di bulan Mei para petani sudah mulai menanam tembakau rajang jenis kasturi, jadi sekitar bulan September sudah panen.
Namun dari perkiraan petani berbeda dengan kenyataannya, ternyata wilayah Lombok Timur masih diguyur hujan hingga akhir-akhir ini.
“Biasanya di bulan Mei ini kami sudah mulai menanam tembakau karena musim kemarau akan datang. BMKG juga sudah memberikan peringatan soal kemarau panjang. Tapi kenyataannya di luar prediksi BMKG, karena beberapa hari ini hujan cukup deras,” tuturnya.
Petani lain, Lalu Subli (30), mengaku mengalami nasib serupa. Tanaman tembakaunya tidak bisa diselamatkan, dengan kondisi hampir 80 persen layu dan mati. Subli menuturkan jika tidak bisa hidup tanaman tembakaunya maka ia akan menanam komoditi jagung.
“Semua petani tembakau juga rugi, karena hujan deras yang datang tiba-tiba bikin tembakau layu dan mati. Di desa-desa lain juga keadaannya sama. Perkiraan saya, total lahan yang terdampak bisa mencapai puluhan hektar,” ungkapnya.
Ia pun mengaku merugi hingga ratusan juta rupiah. Menurutnya, biaya untuk menanam tembakau memang cukup besar, dibandingkan dengan komoditas yang lainnya.
“Saya tanam tembakau jenis kasturi rajang. Tidak hanya di sini, tapi di sawah saya yang lain juga saya tanam tembakau. Jadi perkiraan kerugian saya sampai ratusan juta dari total biaya yang saya keluarkan,” tutupnya.
TRIBUNLOMBOK.COM/Rozi Anwar
PERTANIAN – Tampak tembakau yang layu diakibatkan oleh hujan deras di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur, NTB pada Selasa (19/5/2026). Kerugian yang dialami para petani ditaksir mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
