MENGAPA KITA SERING “SALAH UCAP”
(Menelaah Fenomena Typo Lidah dalam psikolinguistik)
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2026
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A.
Berbicara sudah menjadi hal yang biasa dan umum di kalangan masyarakat, keluarga maupun di bangku perkuliahan, tapi proses berbicara jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Otak kita bekerja lebih cepat untuk memilih kata, menyusun pesan, mengatur bunyi sebelum keluar menjadi sebuah ucapan.Maka proses itulah yang menyebabkan seseorang biasanya mengalami typo lidah.
Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang typo lidah dari sudut pandang psikolinguistik, yang mencakup faktor-faktor dan jenis typo lidah yang sering terjadi.
Secara psikolinguistik, berbicara adalah aktivitas kognitif yang sangat kompleks. Otak harus memilih konsep, mencari kata yang tepat di dalam mental leksikon (kamus mental), menyusun struktur tata bahasa, hingga mengirimkan sinyal motorik ke alat ucap.
Dalam model psikolinguistik, kata kata disimpan dalam jaringan mental yang saling terhubung berdasarkan makna atau bunyinya. Saat kita ingin mengucapkan satu kata, kata-kata yang mirip secara bunyi (fonetik) atau arti (semantik) ikut aktif. Misalnya, saat ingin mengucapkan kata kursi, kata meja juga ikut aktif dalam sirkuit otak kita. Jika kontrol inhibisi kita melemah, kata yang salah namun berdekatan ini justru yang terucap.
Kesalahan sering kali mengikuti pola yang sistematis, seperti antisipasi, yang dimana bunyi dari kata yang akan datang Muncul lebih awal, misalnya seperti kata “makan” menjadi “nakan”.Hal ini membuktikan bahwa otak kita tidak memproses kata satu per satu secara terisolasi, melainkan merencanakan seluruh struktur kalimat secara simultan di memori jangka pendek pada otak kita.
Terkadang lidah kita typo atau keleseo bukan karna bunyi, melainkan salah memilih kata. Kita sering tertukar antara dua kata yang memiliki struktur bunyi yang mirip namun maknanya berbeda jauh, seperti mengkritik dan mengkeritik atau menyelam dan menelan. Hal ini menunjukkan bahwa otak kita memprioritaskan kemiripan bentuk fonologis ( ritme dan rima) di atas akurasi definisi saat berada di bawah tekanan waktu atau kelelahan.
Faktor eksternal dan kondisi mental memainkan peran besar dalam frekuensi typo lidah. Saat kita merasa cemas, lelah, atau mencoba melakukan multitasking, sumber daya kognitif yang seharusnya digunakan untuk memantau ucapan kita menjadi terbagi. Dalam kondisi ini sistem yang mengatur kata di dalam otak kita gagal mendeteksi kesalahan sebelum suara keluar, sehingga ucapan yang seharusnya di saraing justru terlontar begitu saja.
Salah satu jenis typo lidah atau salah ucap yang paling terkenal adalah spoonerism, yaitu pertukaran konsonan atau vokal antara dua kata dalam satu frasa, misalnya nasi goreng menjadi gasi goreng. Secara psikolinguistik, ini membuktikan bahwa otak kita mengatur unit-unit bunyi ke dalam “slot” Tertentu. Kesalahan ini terjadi ketika unit bunyi tersebut secara tidak sengaja bertukar tempat ke slot yang bukan miliknya namun masih dalam kerangka yang sama,sehingga hal ini yang menyebabkan typo lidah itu terjadi.
Secara keseluruhan, fenomena typo lidah bukanlah tanda kegagalan intelegensi, melainkan sebuah bukti yang kompleks dan betapa dinamisnya sistem pemrosesan bahasa manusia.
Typo lidah menunjukkan bahwa otak kita bekerja jauh lebih cepat daripada otot bicara kita, melakukan perencanaan berlapis dan terkadang mengalami tabrakan data dalam jaringan saraf yang padat.Akantetapi kesalahan ini justru menjadi bentuk kreativitas dan efisiensi otak yang terus berusaha mengorganisir ribuan informasi dalam hitungan milidetik.
