Raffi Ahmad: Bali Makin Padat, Lombok Bisa Jadi “Pelarian” Turis Dunia

LOMBOKita — Lombok tampaknya mulai punya alasan untuk percaya diri. Kalau Bali sudah terasa sesak oleh wisatawan, Raffi Ahmad melihat Lombok bisa menjadi “pelarian” yang menyenangkan bagi turis mancanegara.

Menurut Raffi, kunci untuk membuat Lombok semakin ramai bukan sekadar membangun destinasi, tetapi memperkuat kolaborasi lintas sektor. Mulai dari pariwisata, olahraga, UMKM, hingga berbagai komunitas harus bergerak bersama.

“Sebetulnya dari segala lini itu yang perlu didorong adalah kolaborasinya,” kata Raffi.
Ia menilai momentum MotoGP Mandalika pada Oktober 2026 bisa menjadi salah satu “mesin penggerak” promosi Lombok ke dunia internasional.

Bayangkan saja, pembalap-pembalap dari berbagai negara datang ke Lombok untuk memacu motor di lintasan. Tetapi menurut Raffi, jangan sampai yang ngebut cuma motornya. Ekonominya juga harus ikut tancap gas.

Kehadiran wisatawan mancanegara yang datang menonton MotoGP harus dimanfaatkan untuk menghidupkan berbagai sektor ekonomi lokal, terutama UMKM.

“Banyak turis dari luar yang ingin nonton MotoGP datang ke sini, menghidupkan UMKM lokal di sini, semakin mendunia Indonesia dengan sajian lokal,” ujarnya.

Raffi juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak di Lombok. Menurutnya, perkembangan kawasan tersebut cukup cepat dan membuatnya semakin percaya diri terhadap masa depan pariwisata NTB.

Ia bahkan mengaku baru kembali berkunjung ke Lombok setelah sebelumnya datang kurang dari setahun lalu. Namun, perubahan yang dilihatnya cukup membuatnya terkesan.

“Cepat sekali, dan bangga banget,” katanya.
Yang lebih menarik, Raffi melihat Lombok mulai punya posisi sebagai alternatif bagi wisatawan yang merasa Bali sudah terlalu ramai.

Ia mengaku sempat bertemu wisatawan asing dari Italia, Yunani, dan Rusia di kawasan pantai Lombok. Respons mereka terhadap keindahan Lombok pun cukup membuat Raffi ikut senang.

“Mereka bilang, ‘Wow, ini indah sekali’,” tuturnya.

Menurut Raffi, Bali tetap punya daya tarik luar biasa. Namun, ketika Bali semakin padat, Lombok bisa menjadi pilihan berikutnya bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana yang lebih santai.

“Kita senang Bali, tetapi Bali memang sekarang padat, dan mungkin ini menjadi alternatif selanjutnya di NTB, di Lombok,” ujarnya.

Dengan kata lain, kalau Bali sudah seperti jalan raya jam pulang kantor, Lombok jangan sampai cuma jadi jalan alternatif yang dilewati sekali lalu dilupakan.

Lombok harus ikut “macet” oleh wisatawan—tentu saja macet yang menghasilkan rupiah untuk masyarakat lokal.

Dan di sinilah kolaborasi menjadi penting. MotoGP datang membawa dunia, UMKM menyambut dengan produk lokal, pariwisata menawarkan keindahan, sementara masyarakat menikmati dampak ekonominya.

Kalau semua bergerak bersama, bukan tidak mungkin Lombok bukan lagi sekadar alternatif Bali, tetapi menjadi tujuan utama yang dicari-cari wisatawan dunia.