2019 Selebung Jadi Desa Wisata

Kepala Desa Selebung bersama para pejabat Disbudpar bersantai di Cafe Damarkasi

LOMBOKita – Peluang pariwisata di Lombok Tengah ditangkap dengan baik Pemerintah Desa Selebung, Kecamatan Batukliang, Kabuapten Lombok Tengah.

Seakan tidak mau kalah dengan desa lainnya, diam-diam pemerintah desa ternyata sudah mempersiapkan potensi desanya. Sejak tiga tahun terakhir, berbagai trobosan dilakukan guna mengelola dan menggali potensi wisata di Desa Selebung, diantaranya dengan membangun spot-spot wisata.

Kepala Desa Selebung, Agus Kusuma Hadi, mengatakan, destinasi atau spot wisata dibangun secara bertahap setiap tahun. Saat ini pihaknya telah memiliki beberapa sport dan paket wisata utama yang berpotensi menjadi penyumbang PADes dan mendongktak perekonomian warga. Antara lain paket wisata pemancingan, wisata bersepeda, wisata persawahan, handcraft dan wisata religi.

Untuk wisata pemancingan, pihaknya telah menyiapkan lahan pemancingan seluas 2 hektar lebih yang dibangun tahun 2016. Suasana pemancingan telah dirancang senyaman mungkin. Nantinya, wisatawan yang ingin masuk ke areal pemancingan akan dikenakan biaya karcis dan uang serfice dari pengelola.

Untuk wisata bersepeda, wisatawan bisa mengelilingi desa dan melihat areal persawahan dengan sepeda yang diswa dari warga. Termasuk melihat aneka kerajinan warga. Sedangkan wisata religi, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pemugaran salah satu makam bersejarah yang sudah ada sejak tahun 1700 an Masehi.

Tahun ini, pihaknya juga akan membuka paket wisata “Sasak Weading Party”. Dengan paket ini, wisatawan yang sudah berstatus suami istri bisa merasakan sensasi pernikahan dengan adat Sasak lengkap dengan sorong serah, roah (pesta) dan lainnya.

Namun biaya untuk mengikuti paket wisata satu ini cukup mahal, yakni mencapai puluhan juta. Mengingat upacara adat yang harus dipersiapkan sangat banyak dan rumit.

Untuk mendukung destinasi wisata yang ada, pihaknya telah mempersiapkan kalender wisata. Di dalamnya akan memuat waktu panen buah-buahan dan waktu cocok tanam warga. Sehingga wisatawan bisa mengatur jadwal kunjungan dan paket wisata yang diinginkan. Termasuk untuk mengatur jadwal tanam warga agar sejalan dengan paket wisata yang disediakan.

Tidak sampai disitu, pemerintah desa setempat juga telah membangun café di halaman kantor desa yang bisa dijadikan tempat bersantai bagi wisatawan dan warga. Selain menawarkan berbagai olahan masakan khas Sasak, cafe yang dieberi nama Damarkasi tersebut juga dilengkapi dengan internet gratis yang akan membuat pengunjung nyaman. Keberadaan Cafe Damarkasi ini merupakan percontohan. Kedepan pihaknya berharap hal serupa bisa dibangun dan dikembangkan oleh warga dan menjadi penunjang pariwisata di Desa Selebung.

Dengan berbagai persiapan tersebut, pihaknya menargetkan lounching desa wisata bisa dilakukan tahun depan. Untuk itu, pihaknya berharap kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) ikut berperan dalam mewujudkan hal tersebut. Sehingga keberadaan desa wisata benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Lombok Tengah, HL.Putria, mengapresiasi trobosan yang dilakukan Pemdesa Selebung.

Ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/08/2018), pria yang akrab disapa Datu Siledendeng teraebut mengatakan, keberadaan desa wisata menurutnya sejalan dengan keinginan pemerintah pusat dalam upaya memaksimalkan potensi wisata di pedesaan. Sejauh ini puluhan desa wisata sudah terbentuk. Beberapa diantaranya bahkan berkembang pesat. Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat misalnya, sudah menjadi destinasi wisata utama di Lombok Tengah. Belum lagi Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara (BKU) yang pengelolaan potensi wisatanya sudah dibackup oleh para investor besar dari Australia.

Pihaknya berharap berbagai prestasi tersebut bisa ditularkan di desa-desa lain. Sehingga pengembangan pariwisata Lombok Tengah berjalan sebagaimana yang diharapkan. dar