Tahun Baru Islam Saatnya Hijrah Dalam Kekinian
Selamat datang Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriyah, bertepatan pada 21 September 2017, meskipun berbagai persoalan ummat Muslim di berbagai belahan dunia ini masih ada yang hidup dalam keprihatinan.
Bukan sekadar libur nasional di Indonesia atau berbagai atraksi adat budaya untuk memeriahkannya, momentum Tahun Baru Islam ini merupakan saat yang tepat untuk merenungkan atas peristiwa aktual akhir-akhir ini dan menarik hikmah untuk memetik asa kehidupan yang lebih baik dalam peradaban manusia.
Bisa saja apa yang dilakukan oleh lebih dari 400 ribu warga masyarakat Muslim etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, harus hidup dalam tenda-tenda pengungsian di sejumlah lokasi di Bangladesh merupakan bentuk hijrah mereka pascakekerasan di Myanmar pada 25 Agustus lalu.
Mereka “sedikit lebih beruntung” ketimbang banyak keluarga atau sanak saudara mereka yang meregang nyawa, tewas akibat perlakuan brutal tentara dan kelompok radikal Myanmar, untuk terus bertahan hidup menggapai kehidupan yang lebih baik yang mereka dambakan, entah kapan tibanya.
Penduduk Palestina pun belum hidup berdaulat di negeri merdeka mereka karena masih berada dalam cengkeraman zionis Israel yang berusaha menguasai wilayah Timur Tengah itu.
Perang saudara berkepanjangan juga masih terjadi di negara-negara Islam di jazirah Arab seperti Irak, Jordania, dan Suriah, yang telah mengakibatkan pula eksodus besar-besaran ke belahan dunia lain untuk kehidupan lebih baik.
Qatar pun masih dikucilkan dan diputuskan hubungan diplomatiknya oleh beberapa negeri jirannya seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Soal Palestina dan Rohingya sampai dibahas dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, pada 18-23 September 2017, termasuk oleh sejumlah negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang menghadiri Sidang Majelis Umum ke-72 PBB itu.
Belum lagi kelompok-kelompok radikal yang mengumbar berbagai teror dengan memakai nama Islam atau menyebut sebagai jihad telah menebar ketakutan di berbagai belahan dunia.
Terjemahan Kitab Suci Al Qur’an surat At-taubah ayat 36 menyebutkan,”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.
Empat bulan dalam kalender Islam yang dimaksudkan adalah bulan Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
Hijrah Rasulullah Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Kota Madinah, Arab Saudi, menandai permulaan penghitungan kalender tahun Hijriyah. Hijrah Rasulullah beserta pengikutnya untuk menggapai syiar Islam yang penuh “rahmatan lil alamin”, meninggalkan keburukan dari ancaman penguasa Mekkah ketika itu, menuju pada kebaikan.
Peristiwa hijrah Rasulullah yang dalam kalender masehi bertepatan berlangsung pada Kamis, 15 Juli 622, sejak itu dihitung sebagai tahun hijriyah. Tahun Masehi dimulai 1 Januari sedangkan penanggalan Islam diawali pada 1 Muharram. Dalam setahun masing-masing berisi 12 bulan.
Muhasabah, introspeksi, atau merenung diri menjadi hal wajar dalam mengawali tahun baru, atas berbagai perbuatan dan peristiwa termasuk berbagai kesalahan yang pernah terjadi dan dilakukan. Ajakan untuk meninjau kembali apa saja yang kurang dari perilaku dan tindak-tanduk kita selama satu tahun terakhir untuk diperbaiki pada setahun mendatang.
Sudahkah amal-amal kebaikan yang kita ketahui diamalkan dengan meninggalkan sikap buruk? Sejauh mana amalan Islam diimplementasikan dalam hidup pada tahun sebelumnya dan membulatkan tekad untuk memperbaikinya di tahun yang baru? Tahun Baru Islam juga merupakan momentum meningkatkan kerukunan demi terjaganya kedamaian di tengah masyarakat. Tahun baru Islam ini semestinya membawa kesejukan dan kedamaian, khususnya bagi umat Islam untuk menjaga kedamaian dengan umat semua agama.
Masyarakat diajak untuk memperbanyak syukur kepada Allah karena diberi kesempatan hidup hingga saat ini. Syukur atas nikmat ini harus dimaknai dengan melakukan hal-hal positif dan tindakan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat luas.
Umat Islam meningkatkan kebersamaan dengan sesama umat dan dengan umat dari agama lain. Kebersamaan itu sangat penting.
Lebih baik Hijrah di masa sekarang tampaknya harus dimaknai sebagai upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik di segala bidang, bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama manusia. Hijrah itu meninggalkan yang buruk menuju yang baik.
Hijrah setidaknya memiliki tiga nilai penting yang harus dipahami umat Muslim. Pertama, ada kaitan antara hijrah dengan keamanan karena pada waktu itu terjadi teror atau ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya. Kedua, nilai optimisme, dan ketiga adanya kebersamaan, karena pada waktu itu terdapat anak, remaja, dan orang tua.
Hijrah atau perpindahan demi mewujudkan perbaikan secara total. Semangat tersebut harus terus dilestarikan hingga kapanpun.
Kendati zaman sudah berubah dibandingkan dengan hijrah semasa Rasulullah, hijrah tetap relevan dilakukan dan dibudayakan umat Islam.
Bentuk dari kegiatan hijrah tersebut jangan ditafsirkan secara tekstual namun harus diinterpretasi secara kontekstual yaitu dengan meneladani semangat di balik peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Islam tersebut.
Hijrah perlu diteladani dan dibudayakan secara total dengan melakukan transformasi dalam berbagai kehidupan. Bila masyarakat melakukan hijrah total dalam arti transformasi sosial, hal tersebut akan membawa implikasi luas dalam kehidupan. Totalitas hijrah perlu dilakukan untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh dalam kehidupan sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bangsa secara berkelanjutan.
Sangat tepat menjadikan peringatan Tahun Baru Islam sebagai momentum menuju perbaikan bersama dan menjadi lembaran baru dalam kehidupan dengan cara selalu memberikan yang terbaik bagi bangsa, negara dan kemanusiaan universal.
Dengan demikian moralitas hijrah merupakan semangat menuju ke tingkah laku yang lebih baik, yang harus dilakukan bersama-sama.
Bukan hanya tugas keluarga atau pemerintah tetapi juga lingkungannya yang menjadi tempat manusia bersosialisasi.
Hijrah juga merupakan revolusi peradaban bagi manusia untuk memperbaiki diri dalam mencapai kebaikan.
Hijrah merupakan hal yang harus dilaksanakan bagi umat Islam, dalam rangka membentuk peradaban dan melakukan perubahan yang terbaik,serta membentuk masyarakat yang damai berdasarkan peradaban dan kemanusiaan.
Memang untuk mencapai kebaikan diperlukan pendidikan. Pendidikan itu harus berkarakter dalam arti berlandaskan Al Quran dan hadist Rasulullah. Pendidikan berkarakter itu dimulai dari usia dini melalui lingkungan keluarga.
Sumber daya manusia berkarakter yang memiliki iman dan taqwa akan lebih efektif dalam mengatasi masalah kebangsaan. Dengan adanya pendidikan berkarakter itu, akan membentuk manusia berkualitas baik dan terpuji.
Pada hakikatnya peringatan Tahun Baru Islam merupakan pembinaan mental dan rohani Islam agar senantiasa memiliki perilaku yang baik.
Awali Tahun Baru Islam ini dengan yang baik agar menjadi lebih baik bagi kemaslahatan manusia.
