Rahasia Kehangatan Istana Cipanas

Ruang Tamu Istana Cipanas

Di ruang tengah itu juga seharusnya tergantung lukisan karya Soejono D.S tahun 1958 yang dikenal dengan nama Jalan Seribu Pandang, meski judul aslinya adalah Jalan Menuju Kaliurang. Lukisan ini spesial karena dari arah mana pun lukisan itu dipandang, jalan dalam lukisan itu selalu berubah-ubah, menjadi searah dengan pandangan mata pemandang sehingga Presiden Soekarno memberikan nama “Jalan Seribu Pandang”. Namun karena spesial tersebut, lukisan “Jalan Seribu Pandang” diminta oleh Istana Jakarta dan tidak lagi tergantung di Istana Cipanas.

Sejumlah barang di ruang tengah juga merupakan peninggalan para Presiden RI, seperti guci plered Purwakarta peninggalan Megawati Soekarnoputri. Guci itu menggantikan guci tua berusia 500 tahun yang dibawa ke Istana di Jakarta. Masih ada juga dua keramik warna biru dan putih dari Vietnam, satu set meja makan makan hingga lampu kristal seberat 500 kilogram.

Di ruangan itu juga ada peristiwa pemotongan mata uang (sanering) dari Rp1000 menjadi Rp1. Pada 13 Desember 1965 dan Presiden Soekarno memimpin perisitwa sanering itu. Di ruang itu juga pernah terjadi pertemuan damai antara kelompok Moro National Liberation Front (MLNF) dengan pemerintah Filipina. Pertemuan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri saat itu Ali Alatas atas prakarsa Presiden Soeharto.

Dari ruang tengah, ada tiga kamar tidur untuk presiden maupun wakil presiden dan keluarga yang menginap. Di lorong sepanjang kamar ada tiga lukisan: dua lukisan wanita berkebaya dan satu lukisan berjudul “Potret Seorang Tetangga.

Lorong itu mengantarkan pengunjung ke serambi belakang yang terbuka. Di serambi itu ada sofa rotan yang dapat membuat orang yang duduk di atasnya berlama-lama diam memandangi “landscape” taman hutan istana. Dari serambi belakang, pengunjung juga dapat melihat paviliun-paviliun yang mengelilingi gedung utama.

Ada delapan paviliun di areal istana, yaitu paviliun Yudistira, Bima dan Arjuna yang dibangun pada masa Presiden Soekarno. Selanjutnya pada masa Presiden Soeharto sekitar tahun 1983, dua buah paviliun lainnya menyusul berdiri, yaitu Nakula dan Sadewa. Paviliun Abimanyu dibangun pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Di samping itu, terdapat dua bangunan lainnya yang diberi nama paviliun Tumaritis I dan Tumaritis II yang lokasinya agak terpisah dari sekitar gedung induk dan enam paviliun lain.

Di Istana Cipanas inilah, tepatnya di Gedung Induk, Presiden Soekarno juga menikahi Ibu Hartini.

dewatogel88

dewatoto

dewaslot88

dewaselot

dewatoto

dewaselot

pilot138

dewatogel88

dewatoto88

pilot138

torpedo99

ace99play

ace99play

slot anti rungkat

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

ace99play

alpha4d

alpa4d

alpha4d

alpha4d

alpha4d

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777