Potensi Kerugian Pariwisata Akibat Erupsi Gunung Agung
Kita memahami pariwisata merupakan penggerak utama roda ekonomi Bali. Bahkan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali menduduki angka pertama secara nasional dibandingkan daerah lain. Tidak saja wisatawan lokal, tetapi wisatawan asing juga terbanyak yang datang ke Indonesia, tujuannya adalah Bali.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, daerah tujuan wisata Pulau Bali menerima kunjungan wisatawan mancanegara 4,92 juta orang selama tahun 2016. Angka itu meningkat 23,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 4,001 juta orang.
Wisatawan datang dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya melalui Bandara Ngurah Rai sebanyak 4,85 juta orang. Dan sisanya 75.303 orang melalui pelabuhan laut.
Biasanya puncak kedatangan wisatawan, antara lain, pergantian Tahun Baru dan hari libur nasional. Namun dengan terjadinya erupsi ini, kemungkinan jumlah wisatawan akan menurun cukup tajam. Apalagi, dengan ditutupnya bandara yang merupakan pintu utama masuknya wisatawan asing.
Ketika erupsi Gunung Agung pada Oktober lalu, potensi kerugian wisata Bali diperkirakan mencapai. 20 juta dolar AS. Pada bulan itu setidaknya 60 ribu wisatawan asing membatalkan kunjungan ke Bali dan rata-rata wisatawan menghabiskan sekitar 1.300 dolar AS di Bali.
Pada Oktober tidak ada penutupan bandara. Dengan kejadian beberapa hari terakhir ini, potensi kerugian wisata Bali bukan tidak mungkin akan lebih besar. Apalagi, penutupan Bandara Ngurah Rai bisa dilakukan sewaktu-waktu karena pengaruh erupsi Gunung Agung yang belum ada tanda-tanda akan menurun.
Kalau akhirnya banyak wisatawan asing yang membatalkan wisatanya ke Bali, pemerintah pusat dan Pemrov Bali juga hendaknya memberi perhatian terhadap nasib pelaku wisata Bali agar tidak benar-benar terpuruk.
