Peringatan Maulid Nabi, Menghidupkan Tradisi Maulana Syeikh
LOMBOKita – Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan sebutan Maulid Nabi merupakan salah satu tradisi yang telah diajarkan oleh pendiri Nahdlatul Wathan, Almagfurulahu Maulana Syeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayat kepada seluruh warga Nahdlatul Wathan (NW).
Untuk menghidupkan kembali tradisi Maulana Syeikh tersebut, Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan (YPH PPD NW) Pancor Lombok Timur mengadakan pengajian Maulid Rasulullah SAW di aula PPD NW Pancor, Rabu (13/11/2019).
Selain dibanjiri jamaah NW, thullab tholibat MDQH, santriwan dan santriwati lingkungan Pondok Pesantren setempat, pengajian itu juga dihadiri langsung Ketua Umum Dewan Tanfidziyah PBNW TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA beserta para masyayikh.
Rangkaian acara yang juga sunnatan hasanatan yang telah diajarkan oleh Maulana Syeikh yang kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, yakni cukuran bayi sesaat sebelum acara dimulai.

Dalam tausiyah perayaan Maulid Nabi itu, TGB HM Zainul Majdi mengajak seluruh hadirin yang hadir pada saat itu untuk mendoakan semua guru dan orang tua masing-masing semoga selalu diberikan kesehatan dan umur panjang.
TGB HM Zainul Majdi mengungkapkan, perayaan Maulid Nabi bagi organisasi Nahdlatul Wathan sudah lumrah dilaksanakan sebagaimana kebiasaan yang telah diajarkan oleh Maulana Syeikh.
“Mari kita hidupkan kembali tradisi yang telah diajarkan kepada kita semua, yakni dengan cara menghidupkan hari-hari yang membawa arti dalam menghidupkan perjuangan agama. Hari-hari yang di dalamnya tercatat sejarah Islam. Almaghfurullah mengajarkan kita untuk memperingati hari-hari besar agama Islam itu. Salah satunya adalah maulid Nabi Muhammad SAW,” jelas cucu pendiri NW itu.
Dikatakan Syeikh TGB Zainul Majdi, tidak ada nikmat yang Allah berikan kecuali ada jalan sampai kepada kita, baik secara sababun zohir ataupun sababun bathin, yakni sebab itu yang bisa kita lihat ataupun tidak bisa kita lihat.
“Mari kita lihat diri kita, apa yang ada pada diri kita, lihat jasad kita, jasad kita ada karena ada sebabnya yakni orang tua kita. Ada juga sesuatu yang berharga dan tidak terlihat yakni ilmu. Ilmu itu juga ada sebabnya sampai kepada kita, yaitu guru kita. Jadi semua nikmat Allah sampai kepada diri kita pasti melalui sebab,” ulas Hafiz Ahli Tafsir jebolan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir tersebut.
Bahkan, kata Syeikh TGB, salah satu sebab yang paling besar yang membuat kita mendapatkan banyak nikmat adalah Nabi Muhammad SAW. Maka maulid ini adalah bagian dari kita memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Mari lihat pokok-pokok dalam agama, rukun iman, rukun islam semuanya melalui perantara Nabi Muhammad SAW.
Syeikh Amin al- Qutbi mengatakan “lailatul qodr, dan semua hari besar
القدر والأعياد, والمعراج،
Siapa yang memberitahu kita kalau Lailatul Qadar itu malam yang lebih baik dari seribu bulan, ada Idul Fithri, hari-hari istimewa, waktu-waktu istimewa, dan siapa yang mencontohkan kita, mengajarkan kaifiyatnya, selain Nabi Muhammad SAW? Sebabnya adalah, karena wahyu itu turun kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Begitu juga Isro’ dan Mi’raj, katanya, dalam peristiwa itu karena cinta beliau kepada kita, Nabi meminta keringanan dari kewajiban solat 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Permintaan keringanan itu bukan untuk beliau tapi untuk kita semua selaku ummatnya.
“Maka saat kita berada di majlis ini ataupun di acara – acara yang lain, jangan sekali-kali hati kita putus membaca sholawat kepada Nabi SAW,” ajak mantan Gubernur NTB dua periode itu.
Mengutif ungkapan Sayyidina Abu Sulaiman Ad-Daroni, Siapa saja, lebih-lebih bagi penuntut ilmu, yang memiliki hajat, harapan, cita-cita yang baik, maka awali do’a itu dengan sholawat kepada Nabi dan tutup do’a itu dengan sholawat kepada Nabi. Lalu diantara sholawat itu berdo’alah dengan apa pun yang kita inginkan. Karena sholawat itu wajib diterima oleh Allah SWT.
Memperingati Maulid Nabi SAW ini, menurutnya, adalah kesempatan kita untuk belajar, meneladani Nabi Muhammad SAW yang telah diberikan berbagai keistimewaan. Tetapi meskipun demikian, hidup Rasulullah tidak mudah, hidupnya penuh dengan tantangan dan cobaan.
“Jangan ada dalam pikiran kita bahwa saat kita belajar di pondok pesantren, kita tidak akan ditimpa oleh hal-hal yang tidak baik. Tidak demikian, nabi saja orang yang penuh dengan kebaikan dan dimuliakan, namun sarat dengan cobaan,” jelas Syeikh TGB.
Perlu diingat, aib bagi penuntut ilmu kalau malamnya tidak dihidupkan dengan ibadah dan mutholla’ah
Zaman moderen 4.0 ini, lanjutnya, bukan berarti kita meninggalkan cara ulama-ulama terdahulu. Kalau kita terbiasa menghidupkan malam dengan ibadah dan mutola’ah, maka kelak kita akan terbiasa menghadapi tantangan dan cobaan.
Semua perjuangan harus dimulai dengan benih-benih kebaikan. Kalau kita berbicara tentang perjuangan, maka mulailah dari hal-hal kecil. Jangan takut pergi ke tempat jauh, kebutuhan kepada da’iyah tidak kurang daripada kebutuhan kepada da’i.
Pada saat Almaghfurlah mendirikan Nahdatul Banat, Maulana Syeikh mencantumkan atsat. Perempuan itu sebagai tiang bangunan. kalau tiang itu kuat, maka bangunan itu pun kuat, kalau tiang itu runtuh, maka runtuh pula bangunan itu.
Syeikh TGB juga berpesan kepada seluruh santriwan dan santriwati agar setelah belajar agama di madrasah, jangan menjadi orang yang tidak berani keluar rumah. Sebab, katanya, kalau bukan ahli agama yang mengisi tempat-tempat itu, maka tempat itu akan diisi oleh orang-orang yang tidak memahami Agama.
“Para guru mengajarkan kita ilmu bukan hanya untuk kita sendiri, tetapi agar ilmu itu berguna bagi sebanyak-banyak manusia,” katanya.

Rasulullah SAW menyampaikan ada 7 amal yang pahalanya terus mengalir sampai mati, salah satunya ilmu yang diajarkan. Ilmu itu akan terus mengalirkan pahala kalau murid- muridnya terus menyampaikan ilmu-ilmu itu. Kalau kita tidak menyebarkan ilmu itu maka sungguh kasihan ilmu kita. Konsep ilmu itu adalah semakin disebarkan semakin bertambah.
Imam Ali mengatakan; “Harta itu apabila digunakan maka akan semakin berkurang, sedangkan ilmu itu apabila dimanfaatkan akan semakin bertambah.
Jangan melihat hasil akhir yang diperoleh oleh seseorang, tetapi lihat pula proses bagaimana seseorang itu bisa memperoleh hal itu, sehingga ia bisa mencapai kesuksesan dan dikenang sampai sekarang.
Contohnya seperti Almagfurullah, kita hanya bisa mengagumi beliau dan karya-karyanya tapi akankah kita pernah melihat bagaimana prosesnya? Beliau selalu tanamkan rasa Tekun, Sabar, Ikhlas, Istiqomah.
“Jangan harap kita menjadi seperti Almaghfurlah kalau kita tidak mengikuti cara beliau,” kata Syeikh TGB member semangat kepada para santri.
Carilah sahabat yang bisa menambah kebaikan kita, yang bermanfaat untuk ilmu, ibadah atau kebaikan apapun itu supaya kita bisa mencontoh kebaikan itu,. Ulama mengatakan “Sebaik-baik teman duduk adalah kitab”.
Mengakhiri tausyiahnya, Syeikh TGB berpesan, kalau kita memiliki kekurangan, maka carilah sahabat yang mampu melengkapi itu, yakni:
1. Tanamkan semangat perjuangan
2. Bangun kekuatan dengan kebersamaan
3. Terus isi hidup dengan hal-hal yang bermanfaat
3. Jangan hancurkan diri dengan terus berbuat maksiat. Segeralah bertaubat
Sementara itu, Ketua Umum YPH Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor, H. Muhammad Djamalluddin BE. M.kom dalam kata sambutannya mengajak para jamaah untuk selalu memahami sifat rasulullah (Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah) supaya bisa mengetahui mana berita yang benar, mana berita yang hoax.
