Pengajian Muharam, TGB Tegaskan Islam Tidak Pisahkan Agama dan Negara
LOMBOKita – Muharram. Salah suatu bulan yang memulai perhitungan tahun dalam sistem kalender Islam. Hari ini, usianya telah memasuki tahun 1441 H.
Ummat Islam di seluruh dunia menyambut masuknya tahun baru ini dengan suka cita. Ada yang mengekspresikannya dengan membuat karnaval, membuat lomba-lomba, dan ada juga yang mengisinya dengan menggelar pengajian sebagaimana yang dilakukan warga Nahdlatul Wathan di Ponpes Darunnahdlatain NW Pancor.
Pengajian 1 Muharram menjadi agenda rutin warga Nahdlatul Wathan yang dilakukan sejak hayat pendiri NWDI, NBDI, dan NW Almaghfurlah Maulanasyeikh TGKH. Muhammad Zainddin Abdul Madjid.
Sebelum pengajian utama disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA, didahului dengan pengantar pengajian dari Ketua Baznas NTB TGH. Dr. Salimul Jihad. Dalam pengantar pengajiannya, beliau menyampaikan, supaya ummat Islam mengisi momentum-momentum atau hari-hari penting dalam Islam dengan memperbanyak mengingat Allah SWT.
TGH. Salim yang juga sebagai salah satu masyaikh di MDQH NW Pancor ini menyebut, setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam mengisi momentum hari-hari besar ummat Islam termasuk 1 Muharram. Pertama, memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan salah yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya. Kedua, memohon kepada Allah supaya bisa terus dapat memperbanyak amal-amal baik kita di hari-hari sisa hidup kita. Ketiga, memuhasabah diri kita
“Bertambahnya usia harusnya diikuti dengan bertambahnya kebaikan yang kita lakukan,” jelas beliau
Sementara itu, dalam pengajian utama yang disampaikan TGB, beliau berpesan untuk jangan sampai mengikuti kelompok-kelompok yang menggunakan bendera yang mengatasnamakan Islam, namun ajarannya justru ingin memecah belah umat Islam.
“Saya berpesan kepada seluruh warga Nahdlatul Wathan untuk jangan sampai ikut ke dalam kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam dan menggunakan bendera-bendera Islam namun tujuannya justru ingin memecah belah umat Islam yang ada dalam satu bangsa dan negara,” jelasnya.
Secara gamblang, TGB mengambil contoh hadirnya kelompok bernama Hizbut Tahrir. Benderanya Islam, namun isi dan tujuannya justru ingin memecah belah umat Islam dalam suatu bangsa dan menganggap hanya fahamnyalah yang benar sesuai ajararan Islam.
Almaghfurlah Maulanasyeikh, sambung TGB, telah jelas menggariskan kita untuk berislam dengan Islam yang moderat. Islam yang tidak memisahkan antara agama dengan negara.
“Wahai Indonesia, engkau adalah lambang persatuanku. Jiwaku sebagai tebusan bagimu,” jelas TGB mengutif salah satu bagian dari syair Maulanasyeikh.
TGB dalam kesempatan ini juga mengingatkan pentingnya kehadiran sahabat dalam perjuangan. Menurut TGB, kehadiran sahabat itu sangat penting dalam menemani setiap gerak langkah perjuangan kebaikan yang kita lakukan.
“Hadirnya sahabat yang setia mendukung saat kita berjuang, itu menjadi kenikmatan yang luar biasa bagi kita,” jelas Gubernur NTB dua periode ini.
Kepada para santri dan santriwati, TGB berpesan untuk senantiasa menjaga adab dan akhlak seorang santri serta tidak ikut-ikutan mengikuti paham keislaman dari seseorang yang karena memiliki banyak followers di media sosial.
“lucu sekali kalau ada santri yang lama mengaji kemudian ikut kepada seseorang yang baru belajar Islam kemudian menjadi ustaz di media sosial,” Doktor Tafsir al Qur’an dari Universitas al Azhar Mesir ini.
Selain itu, TGB juga berpesan untuk menjadi santri/santriwati yang bisa ikut serta menyebarkan faham-faham baik yang telah diajarkan oleh para tuan guru di pondok pesantren. Salah satu caranya adalah dengan menulis ilmu-ilmu yang telah didapatkan kemudian disebarluaskan melalui berbagai media yang ada.
“Ada banyak imam-imam hebat selain dari imam mazhar yang kita kenal namun ajarannya tidak bertahan lama sampai dengan saat ini karena tidak ada murid-muridnya yang menulis lalu kemudian menyebarkannya,” jelas TGB yang juga ketua OIAA Indonesia ini.
Pengajian kemudian ditutup dengan pembacaan doa pusaka yang dipimpin oleh TGH. Mustofa Alawi.
Demikian sedikit catatan yang bisa saya simak dari pengajian 1 Muharram 1441 H di Kota Santri Pancor Lombok Timur.
Pancor, 1 Muharram 1441 H/ 1 September 2019
