Pemkab Lotim Siapkan Anggaran Tak Terduga Penangan PMK
LOTIM LOMBOKita – Masih rawannya kabupaten Lombok Timur ternak sapi terserang penyakit mulut dan kuku (PMK), Pemkab Lotim komitmen dalam melakukan penanganan dan pencegahan merebaknya kasus PMK pada terbak sapi, dengan menyiapkan anggaran dana belanja tak terduga untuk penanganan,
“Pemkab tetap komit dalam penanganan kasus PMK ini, untuk penangannnya, kita siapkan anggaran tak terduga,” ungkap Penjabat Bupati Lotim HM Juaini Taofik.
Dikatakan Taofik, karena populasi ternak yang mencapai 150 ribu ekor, penanganan PMK menjadi isu krusial yang harus segera diatasi, sehingga penanganan harus disegerakan.
“Agar tak meluas,Kita siapkan anggaran dari dana tak terduga,” sebutnya.
Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan Lotim, drh. Hultatang saat dikonfirmasi tak menampik, kalau Lotim sangat rentan penyebaran PMK, hal ini disebabkan karena Lotim memiliki pasar hewan ternak yang merupakan salah satu terbesar di NTB.
” pergerakan hewan ternak di pasar Lotim datang dari seluruh wilayah Kabupaten Kota di NTB sehingga sangat berpotensi penyebaran PMK,” ucapnya.
Selain itu, cuaca saat ini juga menjadi faktor risiko yang dapat memicu penyebaran penyakit. Hewan ternak yang baru lahir, yang belum mendapatkan imunitas, menjadi kelompok paling rentan terhadap infeksi.
“Kita temukan beberapa indikasi PMK, itu ditemukan di sejumlah kecamatan seperti Selong, Suela, Pringgasela, dan Sakra, rata-rata ditemukan tiga kasus,” sebut Hultatang.
Sehingga upaya pencegahan guna meminimalisir penularan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, meminta peternak untuk meningkatkan kesadaran.
” Jika ada ternak yang sakit, segera laporkan kepada petugas, jangan menunggu hingga kondisi memburuk” tegasnya
Selain itu, pihaknya juga telah melaporkan temuan indikasi kasus ini ke Pemerintah Provinsi NTB untuk diteruskan ke pemerintah pusat.
“Kita tidak ingin lengah meskipun situasi saat ini belum signifikan. Kewaspadaan dan tindakan pencegahan adalah kunci untuk mengendalikan penyebaran PMK,” jelas Hultatang.
Lanjut Hultatang, pengawasan ketat terhadap ternak di setiap desa, memberikan edukasi kepada peternak mengenai PMK, pengobatan terhadap ternak yang terinfeksi, serta penyemprotan disinfektan di kandang-kandang ternak dan pemberian vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh ternak.
“Kita telah meningkatkan pengawasan, serta melakukan edukasi dan pengobatan kepada hewan ternak,” ujarnya.
