Lotim dan KSB Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi, Usung 5 Pilar Kerja Sama Regional
LOTIM LOMBOKita – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat resmi memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi regional. Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan Capacity Building Tim Pengendali Inflasi Daerah TPID Kabupaten Sumbawa Barat ke Kabupaten Lombok Timur dengan tema “Memperkuat Kapasitas dan Sinergitas Antar Daerah”, Kamis (30/7/2026).
Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya menyampaikan apresiasi atas kunjungan TPID KSB. Ia menegaskan pengendalian inflasi tidak bisa dibebankan pada satu daerah atau instansi saja.
“Dinamika harga pangan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, hingga tantangan perubahan iklim. Karena itu, kolaborasi dan sinergi lintas daerah menjadi kunci utama yang sangat relevan dengan kondisi saat ini,” ujar Wabup Edwin.
Wabup menyebut Pemkab Lotim konsisten menjalankan strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Beberapa program unggulan yang telah berjalan di antaranya:
– Dinas Pertanian: Pengadaan bibit tanaman dalam polybag senilai Rp1,1 miliar untuk anggota PKK dan GOW, serta pembangunan greenhouse budidaya cabai/hortikultura senilai Rp1,5 miliar yang dikelola BUMD PD Agro Selaparang.
– Dinas Sosial: Penyaluran bantuan belanja sembako Rp30 miliar untuk lebih dari 198 ribu rumah tangga desil 1–3.
– Bagian Kesra: Bantuan tunai Rp3 miliar untuk guru ngaji, marbot, dan pengajar TPQ.
Selain itu, Pemda juga menjalin kerja sama antar daerah berupa komitmen pasokan strategis. Bersama BI, Bulog, dan champion cabai, Pemda melakukan operasi pasar murah masif di 21 kecamatan, pemantauan harga rutin di pasar tradisional, dan penguatan komunikasi publik untuk mencegah panic buying.
“Kami berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tapi melahirkan rekomendasi dan aksi nyata yang berdampak pada stabilitas ekonomi masing-masing wilayah,” harapnya.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda KSB Syahril menegaskan inflasi bukan sekadar angka statistik BPS, tetapi kenyataan yang langsung menggerus daya beli dan menekan pelaku usaha kecil.
“Sumbawa Barat dan Lombok Timur hadir bukan sebagai dua entitas terpisah, melainkan satu kesatuan ekosistem ekonomi regional. Apa yang terjadi di Pasar Selong maupun Pasar Sweta Mataram, dampaknya langsung terasa di Taliwang, dan sebaliknya,” tegas Syahril.
Ia menyoroti keterkaitan ekonomi kedua daerah. Lotim unggul sebagai lumbung pangan cabai, bawang merah, dan telur, namun rawan fluktuasi harga saat panen raya. Sementara KSB memiliki daya beli tinggi akibat industri tambang, tetapi sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.
*Usulkan 5 Pilar Sinergi Penanganan Inflasi*
Untuk memutus pola penanganan inflasi yang reaktif, Syahril mengajukan 5 Pilar Strategi Sinergi KSB – Lotim:
1. Integrasi Sistem Informasi Pasar & Early Warning System
Platform data harga dan stok secara langsung antar daerah agar surplus komoditas di satu daerah bisa diserap daerah yang membutuhkan.
2. Optimalisasi Rantai Pasok & Efisiensi Logistik Lintas Laut
Pembentukan konsorsium logistik pangan untuk menekan biaya transportasi laut 10–15%, tarif khusus/subsidi silang, dan jalur prioritas bagi truk bahan pokok jelang HBKN.
3. Pengembangan Sentra Produksi & Hilirisasi Bersama
4. Koordinasi Operasi Pasar & Cadangan Pangan Bersama
5. Penguatan Literasi Ekonomi & Peran Masyarakat
Pertemuan dilanjutkan dengan diskusi untuk merumuskan komitmen bersama. Kedua Pemda diharapkan segera menyusun teknis pelaksanaan agar stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dapat terjaga.
