Garuda Tunggu Izin Tuhan Buka Penerbangan Lombok-Jogja
Dicontohkannya, penerbangan antarpulau di NTB, yakni dari Pulau Lombok menuju Pulau Sumbawa dan sebaliknya relatif ramai. Hal itu ditunjukkan dengan persentase “load factor” atau tingkat keterisian kursi pesawat yang mencapai 80 persen setiap kali penerbangan.
Sebaliknya, dari Sumbawa ke Lombok tingkat keterisian kursi mencapai 100 persen. Begitu juga dari Lombok ke Bima atau sebaliknya cukup ramai penumpang setiap kali penerbangan.
“Hanya yang menjadi kendala, rute penerbangan antarpulau dalam satu provinsi tersebut adalah cuaca yang agak sulit diprediksi. Pesawat kadang-kadang tidak bisa mendarat di bandara karena angin kencang,” ucapnya.
Selain rute penerbangan antarpulau di NTB, maskapai penerbangan di bawah Kementerian BUMN itu juga terus mendukung percepatan mobilitas masyarakat dari dan menuju NTB.
Menurut Yansverio, tingkat keterisian kursi pesawat dari dan ke NTB trend-nya tumbuh cukup baik. Hal tersebut didukung dengan banyaknya kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition).
Selain itu, gencarnya promosi pariwisata yang dilakukan pemerintah juga ikut mendongkrak membaiknya bisnis penerbangan komersial di NTB. Apalagi provinsi itu memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, di Kabupaten Lombok Tengah, yang diprediksi akan menyamai, bahkan melebihi Nusa Dua Bali.
Saat ini, Garuda Indonesia melayani 14 kali penerbangan dalam satu hari, dengan rute penerbangan dari Lombok menuju Jakarta, Bali, Surabaya, Makassar, Sumbawa, Bima.
“Makanya perencanaan kami adalah bagaimana meningkatkan frekuensi penerbangan dan membuka rute penerbangan baru. Tidak hanya domestik, tapi juga mengarah ke rute penerbangan internasional menuju Lombok dan sebaliknya,” kata Yansverio.
