Densus 88 Bentuk Duta Pencegahan IRET Lewat Gentara Nusa 2026, 340 Pelajar NTB Dilatih Jadi Agen Literasi Digital

Keterangan foto: Mewakili Kasatgaswil NTB Kombes Pol Lili Warli berfose bersama. Para pemateri dan peserta

MATARAM LOMBOKita – Densus 88 Antiteror Polri Satgaswil Nusa Tenggara Barat NTB membentuk Duta Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme IRET melalui program Gentara Nusa 2026. Program ini bertujuan memperkuat ketahanan generasi muda terhadap penyebaran paham ekstremisme di ruang digital.

Kegiatan berlangsung di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia BPSDM Provinsi NTB, Rabu (5/8/2026), dengan mengusung tema _”Vaksinasi Siber melalui Gerakan PIK-M School Impact bagi Remaja NTB guna Menangkal IRET, Mencegah Pernikahan Usia Anak, dan Mewujudkan Kecerdasan Finansial Digital.”_

Program edukasi tersebut diikuti sekitar 340 pelajar dari 34 SMA dan SMK di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Masing-masing sekolah mengirimkan 10 peserta untuk mendapatkan pembekalan mengenai literasi digital, pencegahan paham radikalisme, serta penguatan karakter kebangsaan.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan sosialisasi dan edukasi tentang bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Harapannya para pelajar mampu menjadi generasi yang kritis serta tidak mudah terpengaruh informasi maupun propaganda yang berkembang di media digital,” ujar Rohadi.

Mewakili Kasatgaswil NTB Kombes Pol Lili Warli, Katim Cegah Pulau Lombok Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri Ipda Embun Hariadi mengatakan pola penyebaran paham terorisme saat ini mengalami perubahan. Jika sebelumnya dilakukan secara langsung, kini kelompok tersebut memanfaatkan media sosial sebagai sarana propaganda dan perekrutan.

“Karena itu Densus 88 menggagas pembentukan Duta Pencegahan IRET agar para pelajar dapat menjadi agen edukasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Kami berharap para siswa menjadi role model di sekolahnya, menjadi pelindung bagi teman-temannya, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” katanya.

Ia menambahkan, pendekatan pencegahan melalui edukasi dinilai penting mengingat remaja merupakan kelompok yang aktif menggunakan media digital sehingga membutuhkan kemampuan literasi digital dan berpikir kritis dalam menyaring informasi.

Ketua Bidang I Tim Penggerak PKK Provinsi NTB Bidang Pembinaan Karakter Keluarga, Ir. Hj. Lale Prayatni, mengingatkan keluarga tetap menjadi benteng utama dalam melindungi anak dari pengaruh negatif di ruang digital.

“Jangan menganggap anak aman hanya karena berada di rumah. Orang tua juga harus mengetahui aktivitas digital anak, termasuk bagaimana mereka menggunakan telepon genggam. Teknologi harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif,” ujarnya.

Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram, Zarkasyi, SE., MM., juga mengapresiasi Gentara Nusa 2026. Menurutnya pencegahan tidak cukup dilakukan di sekolah saja, perlu keterlibatan keluarga, lingkungan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen.

“Pencegahan tidak cukup dilakukan di sekolah saja. Perlu keterlibatan keluarga, lingkungan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen agar anak-anak terlindungi dari berbagai pengaruh negatif, termasuk paham radikalisme,” katanya.

Sebagai bagian dari rangkaian Gentara Nusa 2026, peserta juga mengikuti workshop pencegahan pernikahan usia anak dan sosialisasi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard QRIS bersama Bank Indonesia guna memperkuat literasi keuangan digital.

Melalui program ini, para pelajar didorong menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah maupun masyarakat dengan menyebarkan nilai toleransi, memperkuat persatuan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham IRET di ruang digital.