Tingkat Kebutaan di NTB Tertinggi Kedua Nasional

LOMBOKita – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dihadapkan “pekerjaan rumah” untuk membenahi kualitas penglihatan mata masyarakatnya, karena saat ini daerah tersebut menjadi yang kedua tertinggi dalam tingkat kebutaan di Indonesia.

“Angka kebutaan di NTB empat persen. Kalau nasional itu 2,8 persen. NTB termasuk kedua tertinggi di nasional,” kata Kepala Dinas Kesehatan Pemprov NTB Nurhandini Eka Dewi dalam peluncuran “Seeing is Believing” Standard Chartered Bank di Mataram, Kamis.

Angka tersebut, kata Nurhandini, berdasarkan survei yang dilakukan Lembaga The Fred Hollows Foundation.

Tidak hanya kebutaan, menurut dia, saat ini, Pemprov NTB juga dihadapkan pada tantangan untuk memitigasi kerusakan mata dan daya penglihatan rendah (low vision) pada anak-anak.

Masalahnya, ujar Nurhandini, gaya hidup masyarakat, termasuk juga anak-anak sekarang, sangat rentan dengan kerusakan mata, misalnya bermain gawai (gadget) secara berlebihan.

“Bahkan, menurut survei, 10 persen dari anak kelas 4,5, 6 sekolah dasar itu membutuhkan kacamata,” ujar dia.

Entaskan kebutaan Dalam kesempatan tersebut, Nurhandini mendampingi Wakil Gubernur NTB Muhamad Amin, bersama Standard Chartered Bank (Standchart) meresmikan program pengentasan kebutaan, “low vision” dan kerusakan mata “Seeing is Believing”.

Melalui program “Seeing is Believing”, Standard Chartered (Standchart) Bank mengucurkan 1,024 juta dolar AS untuk menurunkan tingkat kebutaan, dan kerusakan mata masyarakat di NTB.

Program itu ditargetkan mampu memberikan mendidik, pemeriksaan, dan akses kacamata bagi 550 ribu siswa dan pelatihan bagi 3.500 guru di 3.500 SD dan SMP.

Program itu akan berjalan selama tiga tahun dari 2017-2020 di lima kota yakni Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa Barat.

CEO Standchart Bank Indonesia Rino Donosepoetro mengatakan, melalui keterangan tertulis, bahwa “Seeing is Believing” merupakan inisiatif global dari perusahaan yang bermarkas di Inggris itu.

“Kami ingin turunkan prevalensi kebutaan yang dapat dicegah,” kata dia.

Sejak 2003, kata Rino, program ini sudah mengucurkan dana sembilan juta dolar AS untuk program perawatan kesehatan mata masyarakat.

“Ini sudah memberikan dampak kepada lebih dari dua juta orang yang mendapatkan vitamin A, lebih dari enam juta orang memperoleh layanan kesehatan mata, dan melakukan 138 ribu operasi katarak dan operasi mata lainnya,” ujar dia.

Secara global, menurut Country Head Brand Marketing Standchart Indonesia, Rosalinda Hoesin, program “Seeing is Believing” ini sudah mengumpulkan dana sebesar 95 juta dolar AS dan menyasar 150,3 juta penerima bantuan.

“Sedangkan di NTB, adalah provinsi dengan permasalahan mata yang cukup tinggi. Program ini akan berusaha untuk meningkatkan akses anak-anak terhadap layanan perawatan mata dan berdampak positif buat proses belajar anak-anak,” ujar dia.