Budaya Lombok “Bekerayanan” Atasi Gizi Buruk

Bekerayanan atau istilah lainnya begibung atau makan secara bersama masih sering dilakukan masyarakat di pulau Lombok / foto: Istimewa

LOMBOKita – Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menerapkan budaya “bekerayanan” atau ada yang juga menyebutnya dengan istilah begibung, yakni makan bersama untuk mengatasi balita dengan kasus gizi kurang.

“Penerapan ‘bekerayanan’ ini cukup efektif meningkatkan nafsu makan anak yang secara otomatis meningkatkan gizi balita,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Senin.

Ia mengatakan, pola mengatasi anak dengan gizi kurang atau balita dengan status gizi di bawah garis merah, dengan “bekerayanan” yang merupakan salah satu tradisi di Pulau Lombok, telah dicoba di tiga puskesmas.

Tiga puskesmas itu adalah Puskesmas Karang Pule, Pejeruk dan Puskesmas Mataram, yang sudah berjalan dan hasil evaluasi cukup bagus.

Bahkan untuk di Puskesmas Karang Pule mereka memiliki program tambahan sendiri yakni “beriok tinjal meriri gizi” yang artinya bersama saling dukung memperbaiki gizi.

Menurut Usman, dalam pelaksanaan kegiatan “bekerayanan” ini, anak-anak yang berada di bawah garis merah (BGM), hasil identifikasi di posyandu dikumpulkan pada hari tertentu untuk makan bersama (bekerayanan).

“Untuk makanan tidak kita siapkan, tapi mereka membawa sendiri-sendiri dari rumah dan hanya datang untuk makan bersama bahkan anak-anak bisa sambil bermain,” katanya.

Hasilnya, dari kegiatan tersebut balita dengan status BGM yang berpotensi menjadi gizi buruk, status gizinya bisa meningkat cepat hingga status gizi normal.

Karena itulah, kegiatan “bekerayanan” ini akan diterapkan ke depalan puskesmas lainnya, agar status BGM di Kota Mataram bisa berkurang.

Bahkan bila perlu untuk mendekatkan pelayanan program, kegiatan “bekerayanan” akan dilaksanakan pada setiap posyandu, tidak lagi di puskesmas.

“Balita dengan status BGM di Kota Mataram saat ini mencapai 2,5 persen atau di atas nasional sebanyak 2,4 persen,” sebutnya.

Sementara jumlah kasus gizi buruk di Kota Mataram saat ini tercatat tujuh kasus, dengan rincian tiga kasus lama karena penyakit bawaan seperti gangguan ginjal, otak lumpuh dan penyakit langit-langit.

Sedangkan empat balita lainnya mengidap penyakit penyerta yakni TB dan paru. “Namun ketujuh penderita gizi buruk tersebut saat ini sedang ditangani dengan berbagai program peningkatan gizi. Mereka juga ada yang ikut ‘bekerayanan’,” ujarnya.