Tujuh Desa di Loteng Jadi Kampung KB

LOMBOKita – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3AP2KB) Lombok Tengah (Loteng) kembali mencanangkan tujuh desa stunting menjadi kampung KB. Pencanangan dilakukan Jumat (9/11/2018).

Tujuh desa stunting yang resmi dicanangkan menjadi kampung KB yakni Desa Marong, Sukaraje Kecamatan Praya Timur, Desa Dakung Kecamatan Praya Tengah, Mantang Batukliang, Tratak Kecamatan Batukliang Utara, Sukadane, Kecamatan Pujut, Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat.

Kepala DP3AP2KB Lombok Tengah, H Muliardi Yunus menyatakan, pihaknya mencangkan tujuh desa Stunting menjadi kampung KB karena memiliki layanan teknis mulai dari pos pelayanan terpadu (posyandu), konseling pranikah hingga pemberdayaan ekonomi keluarga dan pengasuhan orang tua. Sehingga, dengan program yang ada di Kampung KB itu nantinya akan mencegah serta menghindari warga terserang penyakit stunting atau kerdil.

“Ini kita lakukan serentak untuk tujuh desa, jadi dalam kampung KB ini mulai dari remaja sudah diperkenalkan dengan stunting. Untuk itu, kami mendorong supaya orang tua dan remaja memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah stunting ini,” ungkapnya.

Lebih jauh disampaikan, bahwa Lombok Tengah sendiri masuk dalam kategori daerah tertinggal. Sehingga oleh pemerintah pusat juga menekankan agar dalam setiap tahunya harus bisa menciptakan kampung KB. Agar kedepan pola kelahiran yang terjadi di masyarakat bisa terus mengalami perbaikan dan bisa terhindar dari penyakit stunting.

“Kampung KB ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk bagaimana mendengungkan kembali program KB yang sudah lama memudar. Terlebih selama ini jika melihat semakin tingginya kesadaran para ibu rumah tangga akan pentignya kontrasepsi dan kesehatan reproduksi,” jelasnya.

Disampaikan juga, bahwa sebenarnya Kampung KB ini di harapkan akan membuat Program KB bergema kembali dan dapat menjangkau masyarakat, terutama yang berada di desa-desa, dusun-dusun, dan kampung-kampung terpencil untuk bagaimana kemudian memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga pola kehamilan. “Hal ini kita harapkan bisa menjaga terkait penyebaran angka stanting,”tambahnya.

Sementara itu, Sekertaris Daerah (Sekda) Lombok Tengah, HM Nursiah menyampaikan, jika program kependudukan dan keluarga bencana ini sudah digalakkan pemerintah dengan maksud untuk menata penduduk agar tidak tumbuh secara liar dan bisa menungkatkan tarap hidup maupun kesejahtraan masyarakat.

“Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga kondusifitas masyarakat, dan untuk kampung KB ini saya rasa sangat penting agar kita semua harus mendukung secara total kepada semua element,”tambahnya.

Hadirnya konsep kampung KB merupakan sebuah terobosan baru yang dilakukan oleh dinas terkait dalam upaya penguatan pelaksanaan program kependudukan, keluarga bencana serta pembangunan keluarga (KKBPK) khususnya di desa-desa stunting.

“ Untuk kampung KB nantinya akan mempunyai titik tekan pada kemandirian masyarakat dalam rangka membangun diri menggapai kesejahtraan,” jelasnya.

Untuk itu, dalam mensukseskan program tersebut, semua pihak harus bekerja. Baik pemerintah daerah maupun pemerintah desa, dimana peran Pemdes setempat dalam penangan stunting ini sangat besar sekali.

“ Semua elemen harus terlibat dalam penganan stunting itu, dan kita berharap program ini bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, HL Makripudin menyampaikan bahwa, pihaknya sangat mengapresiasi pihak Pemda yang terus mencanangkan desa stunting menjadi kampung KB. Apalagi pihaknya melihat masyarakat sekarang sangat atusias untuk ikut program ini.

“ Pencanganan ini harus tetap dilakukan, karena NTB termasuk paling banyak terjangkit penyakit stunting atau kerdil itu,” jelasnya.

Dijelaskan, bahwa kenapa desa stunting ini juga dicanangkan menjadi kampung KB. Tujuan agar bisa segera mendata warga yang mengalami stunting dan dengan cepat ditangani. Terlebih selama ini kebanyakan anak atau balita terjangkit penyakit stunting disebabkan dampak pernikahan muda atau dini. “Rata- rata perceraian dan stanting ini disebabkan oleh pernikahan dini,”tambahnya.

Lebih jauh disampaikan, bahwa pihaknya berharap kepada desa yang telah resmi dicangkan menjadi kampung KB agar terus proaktif turun kelapangan guna memberikan sosiliasi pada masyarakat. Mengenai penyait setunting maupun dampak pernikahan muda itu.