Perempuan Kuat Penjaga dan Pemantau Hutan Sambalia, Siaga Cegah Illegal Logging dan Bencana
LOTIM LOMBOKita – Hutan merupakan jantung dunia yang tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan ekosistem dan kehidupan manusia. Namun kondisi kawasan hutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok Timur, kian memprihatinkan akibat maraknya pembalakan liar dan alih fungsi lahan.
Menjawab keprihatinan itu, sekelompok perempuan di Kecamatan Sambelia mendirikan wadah “Perempuan Pemantau Hutan”. Program ini digagas oleh lembaga Gema Alam NTB berkolaborasi dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia melalui program Wise Watch untuk memberdayakan perempuan di Desa Sambelia dan Desa Sugian.
Eriska Hudriah, Ketua Perempuan Pemantau Hutan Sambelia, menyebut keberadaan program ini menjadi ruang penting bagi pemberdayaan perempuan desa yang selama ini minim kesempatan terlibat dalam isu lingkungan dan sosial.
“Saya sangat tertarik karena di desa kami sebelumnya belum ada program yang memberdayakan perempuan secara spesifik. Melalui wadah ini, kami tidak hanya diajak melihat kondisi realitas hutan, tetapi juga dilatih agar lebih percaya diri dan berpikir positif,” ujar Eriska, belum lama ini.
Sebanyak 25 perempuan tergabung dalam kelompok ini. Anggotanya berasal dari kader posyandu, pengurus PKK, hingga warga peduli lingkungan.
Eris, sapaan akrabnya, tidak memungkiri adanya tantangan sosial dan stigma gender. Aktivitas luar ruangan bagi perempuan kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
“Bagi yang belum menikah, tantangannya adalah meyakinkan orang tua agar tidak dikira sekadar pelesiran saat memantau hutan. Kami sangat membutuhkan pendampingan dari pihak-pihak terkait agar keluarga dan masyarakat yakin kegiatan ini bernilai positif. Alhamdulillah, sejauh ini orang tua dan suami dari teman-teman memberikan dukungan,” jelasnya.
Secara teknis, pemantauan dilakukan rutin seminggu sekali secara berkelompok. Pengawasan menggabungkan pengamatan manual di lapangan dan pemanfaatan teknologi modern berbasis aplikasi Global Forest Watch.
Eris menambahkan, meningkatnya intensitas bencana alam seperti banjir bandang di kawasan Sambelia dan Sembalun menjadi tamparan keras akan pentingnya menjaga tutupan hutan.
“Dari program ini kami makin menyadari betapa krusialnya menjaga lingkungan. Bencana terjadi salah satunya akibat penebangan pohon secara sembarangan. Kesadaran mendasar dari masyarakat untuk melindungi hutan adalah kunci utama,” tambahnya.
Ke depan, para pemantau hutan perempuan ini berharap pemerintah daerah, termasuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Bappeda, Dinas PUPR, dan DPRD, dapat merealisasikan poin-poin advokasi yang telah disuarakan dalam berbagai forum dialog.
Selain penguatan edukasi lingkungan, mereka juga mengharapkan adanya pelatihan kewirausahaan agar anggota kelompok dapat tumbuh menjadi perempuan yang mandiri secara ekonomi.
Dengan keterlibatan langsung perempuan di garis depan, diharapkan upaya pelestarian hutan di Lombok Timur tidak hanya berjalan, tetapi juga berdampak pada penguatan ekonomi dan ketahanan masyarakat desa.
