Dari Wajan Tanah ke Mesin Modern: Senyum Srikandi Kopi Desa Pringgajurang Utara
Oleh: Sri Mulyawati
LOMBOKita — Aroma kopi Robusta kini menyeruak beda dari Desa Pringgajurang Utara, Kabupaten Lombok Timur. Tak ada lagi asap pekat wajan tanah atau tungku kayu bakar yang membuat mata perih. Kini, gemuruh halus mesin roasting modern mengiringi obrolan hangat para perempuan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Keselet Karya saat mengolah biji-biji kopi pilihan.
Di tengah gempuran tren coffee shop dan specialty coffee yang kian menjamur di perkotaan, nasib petani kopi di pedesaan sering kali terbentur dinding tebal keterbatasan teknologi. Dulu, KWT Keselet Karya hanya bisa menjual green beans (biji kopi mentah) dengan harga murah. Jika mencoba menyangrai sendiri, hasilnya kerap tak menentu—kadang terlalu gosong, kadang justru kurang matang karena suhu kayu bakar yang sulit dikontrol.
Namun, wajah bisnis kopi rumahan di Pringgajurang Utara kini berubah total. Melalui dukungan pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi TA 2026, tim pengabdian dari Universitas Mataram turun tangan. Dua dosen Agribisnis, Sri Mulyawati (Lia) dan M. Alwi Shahab, bersama ahli Teknik Pertanian, Rosyid Ridho, mendampingi para perempuan ini melakukan lompatan teknologi.
Memangkas Waktu, Mengunci Konsistensi Rasa
Bukan sekadar mengganti alat, hadirnya mesin roasting berteknologi kontrol suhu presisi ini menjadi solusi atas “jurang kualitas” yang selama ini dialami produsen kopi lokal.
Proses pascapanen yang dulu memakan waktu berjam-jam kini dipangkas drastis hingga 70% lebih cepat. Yang paling krusial, profil rasa (flavor profile) Robusta Lombok Timur kini terjaga konsisten di setiap gramnya.
”Dulu kami hanya bisa menjual biji kopi mentah dengan harga rendah. Dengan mesin roasting ini, kami bisa menghasilkan rasa yang konsisten dan lebih berkualitas,” tutur Dianawati, salah satu anggota KWT Keselet Karya dengan nada penuh syukur.
“Pendapatan anggota meningkat, dan kami merasa lebih percaya diri bersaing di pasar.” imbuhnya.
Mematahkan Stigma, Mengangkat Derajat Perempuan Tani
Lebih dari sekadar efisiensi dapur produksi, sentuhan teknologi tepat guna ini berhasil menggeser stigma lama. Perempuan di pedesaan tidak lagi dipandang sekadar ‘penyokong’ atau buruh petik semata, melainkan pelaku utama bisnis kopi yang mandiri.
Secara ekonomi, mekanisasi ini terbukti mendongkrak marjin keuntungan hingga 40–50% dibandingkan saat mereka hanya menjual biji kopi mentah.
”Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal pemberdayaan perempuan,” jelas Lia, Ketua Tim Pengabdi Unram.
“Ketika mereka mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi tepat guna, posisi mereka bergeser dari buruh tani menjadi produsen sekaligus pengusaha kopi.
Merawat Masa Depan di Hilir Rantai Pasok
Langkah KWT Keselet Karya menjadi bukti bahwa memperkuat rantai pasok berbasis komunitas adalah kunci vital menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga desa. Biji kopi lokal Lombok Timur kini punya jalan lapang untuk mengisi rak-rak coffee shop regional hingga menembus pasar digital nasional.
Meski begitu, perjalanan belum selesai. Agar kemandirian ini bertahan panjang, pendampingan inkubasi bisnis yang berkelanjutan, kemudahan sertifikasi produk, hingga integrasi ke jaringan ritel dan pariwisata daerah masih sangat dibutuhkan.
Sebab pada akhirnya, menikmati secangkir kopi di kafe perkotaan terasa jauh lebih bermakna ketika kita tahu cara kerja para pembuatnya di hilir telah dimuliakan. Ketika mesin roasting itu berputar di jemari para perempuan Desa Pringgajurang Utara, yang sedang disangrai bukan lagi sekadar biji kopi, melainkan masa depan kesejahteraan mereka sendiri.
