Pemkab Lotim Siap Lepas Perdana Ekspor Tepung Porang ke China,
LOTIM LOMBOKita – Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin direncanakan akan melepas perdana ekspor tepung porang ke China dalam waktu dekat. Targetnya, izin ekspor sudah terbit sebelum tanggal 17 Agustus 2026 mendatang.
“Saat ini sudah ada empat kontainer chip porang yang siap dikirim. Proses produksi perdana chip dan tepung porang juga sudah dilakukan dengan mendatangkan bahan baku dari berbagai daerah. Kini tinggal menunggu persetujuan izin karantina dari pusat.” ucap Seksa Lombok Timur HM Juaini Taofik
Sekda mengungkapkan, pabrik pengolahan porang di Lotim membutuhkan pasokan hingga 60-80 ton porang per hari. Karena itu Pemkab Lotim berkomitmen menghadirkan bahan baku agar pabrik dapat beroperasi secara berkelanjutan.
“Pemerintah Kabupaten Lotim terus berupaya menjaga keberlangsungan industri porang di daerah dengan mendorong para petani agar lebih bergairah menanam komoditas unggulan ini,” ujarnya.
Langkah ini diambil menyusul terhentinya operasional pabrik pengolahan porang di Kecamatan Pringgabaya akibat kelangkaan bahan baku beberapa waktu lalu.
Menurutnya, gairah petani menanam porang sempat menurun. “” Sebelumnya belum ada kepastian pembeli, sekarang sudah ada pabriknya. Atau bisa jadi karena kekurangan bibit yang harganya mahal,” jelasnya
Untuk mengatasi persoalan modal dan bibit, Pemkab Lotim akan menyiapkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus bagi petani porang. Program ini merupakan bagian dari inisiatif “Lotim Berantas Rentenir Melalui Kredit Tanpa Bunga” atau “Lotim Berkembang”.
“Ke depan, kita akan sambungkan petani porang dengan perbankan, lalu kita menggratiskan bunganya. Seperti di peternakan, eksternalitasnya mencapai Rp96 miliar hanya dengan modal Rp5 miliar. Ini contoh yang baik,” jelas Juaini.
Dengan subsidi bunga yang ditanggung pemerintah, diharapkan petani dapat mengakses modal untuk membeli bibit dan mengembangkan lahannya tanpa terbebani bunga pinjaman.
Sekda menegaskan kunci utama agar industri porang tetap berjalan adalah menjamin ketersediaan bahan baku dari hulu. Saat ini luas lahan porang di Lotim baru mencapai sekitar 400 hektare, masih jauh dari kebutuhan pabrik.
“Kata kuncinya adalah bagaimana sustain dan bagaimana resiliensi, artinya punya daya tahan di tengah banyak tekanan. Program-program yang baik kita lanjutkan, syarat untuk berlanjut adalah resiliensi,” pungkas Juaini.
Pemkab Lotim optimistis dengan adanya program KUR bunga nol dan kepastian pasar melalui pabrik pengolahan serta rencana ekspor, gairah petani untuk menanam porang akan meningkat.
Hal ini diharapkan dapat memutus rantai ketergantungan pada pasokan dari luar daerah dan menjadikan porang sebagai motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Lombok Timur, kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di NTB.
