Nengah Muliarta: Media Harus Bangun DNA, Perkuat Verifikasi, dan Adaptif Hadapi Era AI

LOMBOKita – Perubahan ekosistem media dari era konvensional hingga digital menuntut perusahaan pers untuk memiliki identitas yang kuat, strategi bisnis yang jelas, serta kualitas jurnalisme yang semakin baik. Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), media tidak cukup hanya mengejar kecepatan, tetapi harus memperkuat nilai dan kepercayaan publik.

Hal tersebut disampaikan perwakilan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat, Nengah Muliarta pada acara Konferwil III AMSI NTB di Mataram, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Muliartha, media saat ini telah mengalami transformasi besar. Jika sebelumnya masyarakat hanya menjadi konsumen informasi melalui media cetak, kini publik memiliki ruang untuk berinteraksi, memberikan tanggapan, bahkan ikut membentuk arus informasi.

“Media sudah berubah dari sistem 1.0 sampai 5.0. Peran masyarakat semakin besar karena mereka tidak hanya membaca, tetapi juga ikut berkomentar dan terlibat dalam ekosistem media,” ujar Korwil AMSI Bali-Nusra itu.

Ia menegaskan, tantangan utama perusahaan media saat ini adalah bagaimana membangun DNA media agar memiliki karakter yang jelas. Media harus mengetahui identitas, target pembaca, serta nilai yang ingin diperjuangkan.

“Jangan sampai kita membuat konten yang tidak sejalan dengan DNA media kita. Setiap media harus tahu siapa dirinya, siapa pembacanya, dan apa yang ingin dibangun,” kata Nengah Muliartha.

Ia mencontohkan pengalamannya ketika terlibat dalam pengembangan sebuah media lokal di Bali yang sebelumnya belum memiliki posisi kuat di tengah masyarakat. Langkah awal yang dilakukan adalah menentukan karakter media dan memperjelas fokus pemberitaan.

“Ketika DNA media sudah ditemukan, kita tahu apa yang harus diberitakan dan bagaimana membangun kepercayaan pembaca,” jelasnya.

Menurutnya, media tidak harus memiliki jumlah sumber daya manusia yang besar untuk bisa berkembang. Yang terpenting adalah membangun sistem kerja yang efektif melalui kolaborasi.

Ia menceritakan, dalam pengelolaan sebuah media, redaksi inti bisa berjalan dengan jumlah personel terbatas, sementara kebutuhan liputan di berbagai daerah dapat diperkuat melalui jaringan kontributor.

“Yang penting adalah manajemen. Bagaimana kita mengatur redaksi, kontributor, dan memastikan kualitas berita tetap terjaga,” ungkapnya.

Di tengah tantangan bisnis media dan kehadiran AI, Nengah Muliartha menilai kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting. Wartawan harus memiliki kemampuan lebih dari sekadar mencari informasi, tetapi juga mampu melakukan verifikasi secara mendalam.

Ia menekankan pentingnya perubahan paradigma wartawan dari sekadar melakukan klarifikasi menjadi melakukan verifikasi.

“Klarifikasi dan verifikasi itu berbeda. Verifikasi memastikan informasi benar melalui pengecekan data dan sumber, bukan hanya meminta tanggapan dari pihak tertentu,” ujarnya.

Ia mencontohkan kasus pemberitaan terkait persoalan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bali. Menurutnya, kesalahan informasi terjadi karena wartawan tidak melakukan pengecekan lebih jauh terhadap konteks kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

“Informasi yang disampaikan sebenarnya bukan penutupan TPA, tetapi penutupan fasilitas tertentu. Karena tidak diverifikasi secara utuh, akhirnya muncul pemahaman yang berbeda di masyarakat,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas wartawan agar mampu menghasilkan karya jurnalistik yang akurat dan bertanggung jawab.

“Di tengah perkembangan AI, kekuatan media tetap berada pada kualitas jurnalisme. Teknologi bisa membantu, tetapi kepercayaan publik hanya bisa dibangun melalui kerja jurnalistik yang benar,” pungkasnya.