Jangan Kampanye di Masjid, Nanti Umat Terpecah!

LOMBOKita – Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Nusa Tenggara Barat menolak masjid dijadikan tempat kampanye pemilihan kepala daerah.

“Kami tidak mau ada kampanye di masjid yang dapat memecah belah umat, karena masjid merupakan tempat mempersatukan umat,” kata Ketua Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Nusa Tenggara Barat Nanang Edwrad di Mataram, Selasa.

Oleh karena itu, BKPRMI NTB telah melakukan gerakan moral mencegah berbagai bentuk kegiatan yang bernuansa politik dan kampanye di masjid.

“Kalau calon berkampanye di masjid pasti akan ada saja yang menjelek-jelakan calon lain dan akhirnya bisa memecah belah umat,” katanya.

Terkait dengan itu, BKPRMI mengimbau semua pemuda dan remaja masjid di daerah ini untuk mengambil langkah-langkah strategis dan remaja masjid harus menjadi garda terdepan untuk menolak politisasi SARA dalam pilkada.

Selain itu diimbau juga menghindari dakwah agama bermuatan politis untuk mendukung pasangan calon dalam pilkada. “Pemersatu umat jangan terpecah karena pilkada,” ujarnya.

Namun, katanya, jika didatangi pasangan calon murni untuk menyumbang atas nama pribadi, tanpa disebut, itu sah-sah saja tapi perlu ditanya sumbangannya itu dalam kapasitas dan untuk kepentingan apa.

“Jika disebut untuk kepentingan politik sebaiknya ditolak, sebab kami tidak ingin seperti kejadian di luar daerah yang menyumbang karpet, begitu gagal terpilih dia mengambil karpet sumbangannya lagi,” katanya.

Sehubungan dengan itulah, BKPRMI NTB melakukan gerakan moral agar masjid tidak digunakan sebagai tempat kampanye. Untuk menyebarluaskan gerakan tersebut, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah ormas Islam lainnya.

Gerakan BKPRMI NTB tersebut telah dibuat dalam bentuk baliho yang akan dipasang pada beberapa titik stategis di daerah ini.