Ricuh Lombok Marathon Coreng Pariwisata NTB
LOMBOKita – Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat, menyebutkan kericuhan yang terjadi pada pelaksanaan Lombok Marathon 2017 yang berlangsung Minggu (28/1) 2018 telah mencoreng pariwisata di daerah ini.
“Dari sisi pariwisata, dampak kericuhan Lombok Marathon tahun ini akan sangat terasa,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB Lalu Moh Faozal di Mataram, Senin.
Faozal yang ditemui di kantor wali kota seusai mengikuti rapat persiapan penataan kawasan wisata Pantai Ampenan mengatakan, dengan kejadian itu paling tidak ada trnas tentang kesiapan menjadi “host” (tuan rumah) dari aktivitas olah raga pariwisata (sport tourism) khususnya lari ke depan sehingga pemerintah provinsi perlu berjuang keras untuk lebih menyakinkan semua pihak.
“Tapi ya sudahlah, kesalahan sudah terjadi karenanya kita mohon maaf dan kesalahan ini juga segera kita jelaskan ke Sekda,” katanya.
Menurutnya, kericuhan yang terjadi pada pelaksanaan Lombok Marathon 2017 salah satunya dipicu pada sisi keterlambatan sampainya medali dan baju kaos peserta yang terbang dari Jakarta.
“Ini juga kita mohon maaf semestinya tidak terjadi, karena ‘event’ sudah sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari dan itu juga ditunda,” katanya.
Lalu yang menjadi pertanyaan kenapa jumlah medali tidak sesuai dengan peserta, Faozal mengatakan, dalam persetujuan antara KONI dan peserta sudah ada yang diberikan hanya 500 peserta mencapai garis “finish” pertama yang dikalungkan medali dan itu yang tidak sempat dilakukan karena keterlambatan kedatangan medali.
KONI juga telah menyiapkan sebanyak 2.000 mendali, karena sudah ada yang mendaftar secara “online” melalui dunia lari sebanyak 1.324 orang.
Peserta yang sudah mendaftar melalui “online” dikenakan biaya pendaftaran, sehingga ada kewajiban panitia menyediakan fasilitas termasuk hak mendapatkan medali.
“Tapi dalam hal ini ada miskomunikasi, sehingga medali diberikan juga kepada semua peserta dari NTB, yang semestinya tidak diberikan kepada semua karena peserta dari NTB ini sebagai penggembira, tapi ternyata semuanya minta dan terjadilah kericuhan itu,” ujarnya.

Komentar ditutup.