Warga Lombok Lestarikan Puasa Syawal dan Ziarah Makam

LOMBOKita – Sebagian masyarakat Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, masih melestarikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal, setelah sebelumnya berpuasa selama sebulan di bulan Ramadhan.

Hj Nurtimah (60) salah seorang warga Kota Mataram, di Mataram Sabtu, mengatakan, berpuasa enam hari setelah puasa wajib di bulan Ramadhan merupakan tradisi bagi sejumlah warga terutama mereka yang usia lanjut.

“Ini sudah menjadi kebiasaan saya kalau tidak puasa rasanya kurang afdal. Untuk itu, apapun alasannya puasa sunah di bulan Syawal tetap saya diupayakan,” katanya.

Nabi pernah bersabda, puasa enam hari setelah Hari Raya Idul Fitri, maka seolah-olah dia berpuasa selama setahun.

Karenanya, sejumlah petugas masjid di Kota Mataram masih tetap membangunkan warga untuk makan sahur melalui pengeras suara sebagaimana pada bulan Ramadhan dan ini ditujukan kepada orang-orang yang akan melaksakan puasa sunah.

Puasa sunah akan berakhir pada Kamis (21/6) dan dirayakan dengan Lebaran Topat atau Ketupat, sehingga sejumlah orang mengatakan, orang yang berhak merayakan Lebaran Topat adalah orang yang puasa sunah sementara yang tidak puasa tidak berhak.

“Lebaran Topat dirayakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dan pada hari itu masyarakat tua dan muda keluar rumah untuk pergi bersantai ke berbagai objek wisata yang ada di daerah ini,” katanya.

Menurut salah satu tokoh agama di Mataram H Irsyad (60) , biasanya warga merayakan Lebaran Topat untuk berziarah ke sejumlah makam yang dikeramatkan di Pulau Lombok.

Selanjutnya, barulah masyarakat pergi bersantai ke sejumlah objek wisata di antaranya, Pantai Loang Baloq, Ampenan, Batu Layar dan kawasan obyek wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat sekitar 12 kilometer utara Kota Mataram.

Pada hari itu, katanya, ratusan ribu warga Lombok yang datang dari berbagai penjuru berbondong-bondong ke Batu Layar baik dengan memakai kendaraan umum, pribadi, tradisional maupun dengan berjalan kaki.

Mereka memilih Batu Layar, karena di samping dapat bersantai di pantai Batu Layar sekaligus berziarah di makam Batu Layar, sebuah makam yang dikeramatkan warga.

Makam Batu Layar juga ramai dikunjungi peziarah terutama pada musim haji, sebab hampir semua jamaah calon haji di daerah melakukan ziarah makam sebelum berangkat ke tanah suci Makkah dan salah satu yang dipilih adalah makam Batu Layar.

“Di samping itu banyak pula makam lainnya seperti Makam Loang Baloq, Bintaro, Selaparang, Ketak dan Makam Sakra di Lombok Timur,” sebutnya.