Ribuan Masyarakat Rayakan Dan Meriahkan Puncak Acara Alunan Budaya Pringgasela Bertajuk “9 Kali Lahirnya”
LOTIM LOMBOKita — Malam Puncak Perhelatan tahunan Alunan Budaya Pringgasela kecamatan Pringgasela Lombok Timur Minggu malam (27/7),yang dihadiri ribuan masyarakat dan tokoh penting dari berbagai unsur pemerintahan, berlangsung meriah dan penuh semangat kebudayaan.
Hadir mewakili Bupati Lombok Timur, Sekretaris Daerah H. M. Juaini Taofik, Staf Ahli Bidang Sosial dan Kemasyarakatan Provinsi NTB Dr. Akhsanul Khalik, mewakili Gubernur NTB, serta perwakilan DPRD, asissten, Kepala OPD, Staf Ahli dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya
Sekda Lombok Timur HM Juaini Taofik dalam sambutannya. menyampaikan apresiasi tinggi atas suksesnya pelaksanaan Alunan Budaya Pringgasela tersebut. “Siapa saja yang pakai kain tenun pasti tambah ganteng dan cantik.” canda Sekda.
Dikatakannya, Desa Pringgasela adalah desa luar biasa karena tiga tahun berturut-turut (2023-2025) masuk dalam Kalender Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hal ini membuktikan kekuatan masyarakat Pringgasela yang dikenal heroik, dibuktikan pula dengan adanya Tugu Perjuangan sebagai simbol sejarah perjuangan masyarakatnya.
“Di tengah minimnya dana, masyarakat Pringgasela tetap mampu menunjukkan kualitas dan semangat menjaga tradisi. Ini harus terus dipertahankan,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan harapan agar ruang bagi anak muda terus dibuka, sekaligus mendorong adanya sinergi lintas generasi. “Kalau kita istiqomah, anak muda diberi ruang dan kesempatan, dan anak muda menghormati orang tua, maka menjadi 10 besar terbaik di KEN bukan hal yang mustahil,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Akhsanul Khalik dalam sambutannya memberikan sudut pandang yang lebih filosofis. Ia menyebut bahwa Alunan Budaya Pringgasela bukan sekadar panggung seni, tetapi pantulan nilai-nilai budaya dan spiritualitas yang hidup dalam masyarakat secara turun-temurun.
“Ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah cermin jiwa, pantulan roh kolektif, dan doa dari masa lalu yang disulam dalam langkah masa kini,” ungkapnya penuh makna.
Ia menegaskan bahwa Pringgasela bukan hanya dikenal sebagai kampung tenun, tetapi juga pusat peradaban lokal yang kaya akan nilai dan filosofi. Menurutnya, tenun adalah bentuk komunikasi budaya yang dalam.
“Tenun adalah bahasa. Ia bicara tentang kerja kolektif. Tentang ibu-ibu yang menenun tidak hanya dengan tangan, tetapi dengan hati. Ia lahir dari keheningan, menyatu dengan alam, dan membawa pesan gotong royong,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap helai benang yang ditenun mengandung ajaran tentang persatuan, saling menopang, dan kebersamaan, yang menurutnya sangat relevan menjadi dasar dalam membangun NTB hari ini dan masa depan.
Dengan mengusung tema “9 Kali Lahirnya”, acara ini dinilainya menjadi refleksi bahwa budaya lokal tak akan pernah mati. Budaya hanya menunggu waktu untuk kembali lahir melalui generasi muda yang mencintai nilai-nilai leluhur.
“Budaya bukan untuk dipamerkan saja, tapi untuk dihayati, dibela, dan diwariskan,” pesannya.
Di akhir sambutan, Dr. Akhsanul menyampaikan apresiasi Gubernur NTB kepada seluruh panitia, tokoh adat, serta masyarakat yang telah menyukseskan acara ini.
“Semangat Pringgasela adalah semangat membangun dari akar, menjahit dari bawah, dan menenun dengan cinta. Dengan penuh kerendahan hati, saya mewakili Bapak Gubernur NTB menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya,” pungkasnya.
Acara penutupan ini menjadi momentum penegasan bahwa budaya adalah kekuatan yang hidup dan tumbuh dalam denyut nadi masyarakat. Pringgasela telah membuktikan bahwa dari desa, budaya dapat menginspirasi dunia.
